Membaca Eskalasi Amerika dan Iran dari Perspektif Dosen Hubungan Internasional UIR

Membaca Eskalasi Amerika dan Iran dari Perspektif Dosen Hubungan Internasional UIR

PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Di tengah memanasnya dinamika geopolitik Timur Tengah, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan. Konflik yang semula tampak sebagai pertarungan tidak langsung berupa gertakan kehebatan persenjataan, kini dinilai semakin kompleks dan berpotensi meluas.

Assoc. Prof. Dr. Rendi Prayuda, S.IP., M.Si., Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Riau (UIR) saat diwawancara oleh Tim Humas UIR pada Senin (02/03/2026), melihat eskalasi terbaru tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai konflik bilateral saja.

“Awalnya konflik ini lebih tampak sebagai pertarungan antara Israel dan Iran, terutama ketika Iran mendukung Palestina dalam konflik yang terjadi. Namun dalam perkembangannya, dinamika ini menjadi semakin komplikatif karena masuknya kepentingan Amerika Serikat,” jelasnya.

Keamanan, kepentingan ekonomi, Minyak Bumi, Ideologi, dan Tatanan Dunia Baru

Menurut analisisnya terdapat empat poin diantaranya Keamanan, kepentingan ekonomi, Minyak Bumi, Ideologi, dan Tatanan Dunia Baru

Ia menilai, dalam konteks tertentu, Israel berperan sebagai mitra strategis Amerika dalam menjaga pengaruh di kawasan.

“Kepentingan Amerika di Timur Tengah berkaitan erat dengan penguasaan jalur-jalur strategis. Iran, dengan kekuatan militernya dan program nuklir yang terus menjadi perhatian dunia, masih dipandang sebagai ancaman,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, konflik yang terjadi saat ini dapat menjadi alat strategis dalam kontestasi kepentingan yang lebih luas. Meski tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai perang terbuka, dinamika di lapangan menunjukkan adanya potensi eskalasi jika situasi tidak terkendali.

Faktor Pemicu Eskalasi

Rendi menekankan, eskalasi menuju perang terbuka sangat mungkin terjadi apabila terjadi pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip hukum internasional, terutama jika serangan meluas dan melibatkan negara-negara yang sebelumnya tidak terlibat.

“Faktor utama peningkatan konflik adalah serangan terhadap negara yang awalnya tidak ikut campur, tetapi kemudian menjadi korban. Ketika kepentingan ekonomi atau keamanan mereka terganggu, mereka bisa terdorong untuk terlibat,” jelasnya.

Dirinya mencontohkan keberadaan pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah, seperti di Bahrain dan Qatar. Jika pangkalan-pangkalan tersebut menjadi sasaran serangan, maka negara tuan rumah atau menjadi korban dari misil-misil yang dilemparkan oleh Iran berpotensi ikut terseret dalam konflik yang lebih luas.

“Ketika negara-negara tersebut merasa terancam, maka eskalasi menuju perang terbuka akan semakin sulit dihindari,” ujarnya.

Rencana De-eskalasi: Menahan Informasi dan Gencatan Senjata

Di tengah kekhawatiran akan konflik terbuka, Rendi menilai langkah de-eskalasi tetap memungkinkan, meski tidak mudah.

Pertama, masing-masing pihak perlu menahan diri. Namun, ia mengakui bahwa faktor kepemimpinan politik dan tekanan domestik sering kali membuat kondusifitas sulit diwujudkan.

Kedua, pengendalian arus informasi di ruang siber atau maya harus di terapkan. Di karenakan Informasi yang tidak terkontrol dapat mempercepat eskalasi. Perang hari ini bukan hanya perang fisik, tetapi juga perang informasi,” katanya.

Langkah paling realistis, menurutnya, adalah mendorong gencatan senjata sebagai upaya awal meredam ketegangan. “Gencatan senjata menjadi penting untuk meminimalisir risiko benturan langsung dan membuka ruang diplomasi,” tegasnya.(kh/hms)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional