PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Pertemuan Wali Kota yang berasal dari tiga negara bertetangga, Indonesia Malaysia Thailand (IMT) Growth Triangle (GT) digelar di Pekanbaru, 4-7 Agustus 2025.
Sebuah tema besar menjadi kepakatan bersama antar para wali kota ketiga negara tersebut, yakni ''Green Cities Towards Sustainable Urban Development'', atau bila diartikan dalam bahasa Indonesia bermakna ''Kota Hijau Menyongsong Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan''.
Sebuah tema yang diangkat bukan sekadar menjadi materi diskusi, melainkan sebuah tantangan dari problematika pembangunan yang sama-sama dihadapi oleh kota-kota penting di negara berkembang, seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand.
Pada pertemuan tahun ke-9 dari PMT-GT ini, tema ini seolah menjadi gambaran bahwa seluruh negara sedang berjuang melakukan tata kelola pembangunan yang tetap memperhatikan aspek lingkungan sebagai barometer.
Tercatat 32 pemerintah kota, kabupaten, dan dewan kota dari Indonesia dan Malaysia diundang untuk hadir, sementara delegasi Thailand akan ditetapkan melalui Sekretariat Nasional Thailand. Sejumlah kepala daerah dari Medan, Batam, Padang, Palembang, Bandar Lampung, Ipoh, Pulau Pinang, Alor Setar, Langkawi, Seremban hingga Kuantan
Forum ini juga melibatkan organisasi internasional, seperti UNESCAP, Institute for Global Environmental Strategies (IGES), serta ICLEI-Local Governments for Sustainability, yang selama ini menjadi mitra dunia dalam pengembangan kota berkelanjutan.
Kehadiran para pihak ini tentunya menggambarkan manifestasi dari semangat keberlanjutan yang juga menjadi spirit pembangunan di kota-kota penting di negara-negara sahabat di Asia Tenggara itu.
Dikatakan Wali Kota Pekanbaru, H Agung Nugroho saat membuka perjamuan helat bersejarah di Kota Pekanbaru ini, suatu kebanggaan Pekanbaru, bisa menjadi tuan rumah ajang pertemuan para kepala daerah dari tiga negara ini.
"Ini sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi masyarakat Riau. khususnya Warga Kota Pekanbaru, karena diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah dari pelaksanaan forum pertemuan IMT-GT. Kami menyambut sukacita kehadiran para kepala derah, yang telah medir membersamai pertemuan ini di Pekanbaru,'' ungkap Agung.
Apa yang telah dan sedang dilaksanakan di Kota Pekanbaru, dengan semangat 'Green City' nya tentunya belumlah apa-apa dibandingkan dengan apa-apa yang telah dilakukan di kota-kota lainnya yang dipimpin para kepala daerah yang hadir.
Namun, Agung menjelaskan, forum ini bisa menjadi wadah pembelajaran, diskusi dan mendapatkan banyak masukan dan pengalaman dari para kepala daerah dalam upaya membangun kota dengan spirit keberlanjutan ini.
Membangun, jelas Agung, bukan semata mendirikan gedung-gedung bertingkat dan megah. Melainkan bagaimana menselaraskan proses pembangunan dengan ketersediaan lingkungan dan memberikan ruang tumbuh yang baik dan serasi bagi masyarakat secara berkelanjutan.
''Bagaimana menjaga dan memberikan lingkungan yang asri bagi generasi berikutnya, itu juga merupakan aspek penting dari pembangunan,'' ungkap Agung.
''Masa depan yang baik itu bukan hanya menyiapkan bangunan-bangunan yang besar, tapi bagaimana menjaga dan memberikan lingkungan yang asri bagi generasi berikutnya," ungkap dia.
Selama tiga hari pelaksanaan 9Th IMT-GT ''Green City Major Council'' ini, Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho yang memimpin langsung delegasi Kota Pekanbaru membawa para delegasi melihat lebih dekat praktik-praktik pembangunan dengan tema kota hijau berkelanjutan ini.
Salah satu sekolah yang dijadikan percontohan adalah SMP Negeri 4 Pekanbaru yang terletak di Jalan Sutomo, Kelurahan Rintis, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru.
SMPN 4 menjadi pilihan kunjungan, karena dinilai berhasil menerapkan konsep green school dan telah mendapatkan berbagai apresiasi secara nasional sebagai salah satu sekolah percontohan nasional dalam penerapan lingkungan berkelanjutan.
Di sekolah ini, Green City sudah langsung dimanifestasikan lewat program menanam, dimana, setiap siswa diwajibkan menanam tanaman hortikultura.
Masing-masing siswa diwajibkan membawa tanaman di dalam polibag sebagai bagian dari kerakan bersama menghijaukan sekolah.
Selain itu, di sekolah ini, para siswa di dorong menggunakan berbagai perlengkapan yang ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli terhadap kelestarian alam sejak usia dini.
Tidak hanya itu, para siswa turut menampilkan beragam hasil kreativitas dari pengolahan sampah daur ulang.
Berbagai jenis limbah berhasil diolah menjadi produk yang bermanfaat, mulai dari pakaian hingga budidaya maggot sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah organik.
"Kita turun ke sekolah yang sudah menjadi sekolah percontohan nasional dalam penerapan green city. Dari pemilihan sampah, pengolahan sampah jadi magot, dari sampah yang sudah terbuang bisa jadi produk yang bisa dimanfaatkan," kata Wali Kota Agung di sela-sela peninjauan.
Agung menilai, kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama antarkepala daerah dalam mewujudkan pembangunan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.

Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho memimpin delegasi IMT GT dari tiga negara melihat aktivitas Waste Station di RTH Kaca Mayang Pekanbaru.
Waste Station di RTH Kaca Mayang
Selain berkunjung ke SMP Negeri 4 Pekanbaru, para degelesi di Forum IMT-GT ke-9 ini juga dibawa melihat pengaplikasian program Pekanbaru Hijau di Ruang Terbuka Hijau Kaca Mayang di Jalan Sudirman Pekanbaru.
RTH Kaca Mayang bukan hanya menjadi tempat bermain bagikeluarga, namun juga sebagai taman ramah lingkungan.
"Di RTH ini juga ada perpustakaan. Jadi, orang tua bisa membaca buku juga sambil menemani anak bermain," ucapnya.
Kemudian, terang Walikota Agung, di RTH Putri Kaca Mayang juga terdapat maket pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kini dikelola oleh PT Indonesia Clean Energy (ICE) untuk menghasilkan gas metana.
"Pengelolaan sampah di TPA ini tadi juga sudah dipaparkan kepada para delegasi. Kita tujuannya bagaimana Pekanbaru mendapatkan carbon capture," ungkapnya.
Selanjutnya, di RTH Putri Kaca Mayang juga terdapat waste station atau fasilitas khusus untuk mengumpulkan, mengelola, dan mengolah berbagai jenis sampah anorganik.
Di waste station, warga bisa menukarkan sampah anorganik yang dihasilkan setiap hari menjadi e-money atau uang elektronik.
"Ini (waste station) bagaimana menerapkan kepada masyarakat agar memilah sampah dan ada hasil dari memilah sampah tersebut," papar Walikota Agung.
"Konsep green city yang ada di RTH Putri Kaca Mayang ini tadi sudah kita jelaskan semuanya kepada para delegasi. Mereka semua apresiasi," ulasnya.
Di dua lokasi yang merupakan bagian dari 'branding' program Green City ini, para tetamu dari negara sahabat bisa melihat lebih dekat pengaplikasian program Pekanbaru Hijau.
Dan mereka mengapresiasi setiap langkah yang telah dilakukan dalam mendukung terselenggaranya pembangunan yang tetap memperhatikan aspek keberlanjutan dan lingkungan.
Dukungan Pemprov Riau untuk Pekanbaru
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto memberikan apresiasi dan dukungan terhadap upaya-upaya pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Kota Pekanbaru di bawah kepemimpinan Agung Nugroho.

Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho saat memberi sambutan saat membuga Forum IM GT di Hotel Pangeran Pekanbaru
Dikatakan SF Hariyanto, Pemprov Riau siap mendukung penuh Pemerintah Kota Pekanbaru dalam menata Pekanbaru sebagai kota ramah lingkungan.
Itu disampaikannya saat membuka Seminar Pembangunan Kota Hijau yang diselenggarakan di Ballroom Hotel Pangeran, Rabu (5/8/2026).
Sebagai ibu Kota Provinsi Riau, dia mendukung langkah-langkah pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan aspek lingkungan di Kota Pekanbaru.
Apa yang dilakukan tersebut, dijelaskan SF Hariyanto sejalan dengan apa yang menjadi program Pemprov Riau dengan Riau Hijau.
Pada kesempatan itu, SF Hariyanto menegaskan, persoalan lingkungan tidak mengenal batas negara. Karena itu kolaborasi IMT-GT sangat penting.
"Kita berkumpul untuk memperkuat kerjasama IMT-GT dalam menjaga lingkungan bersama. Indonesia, Malaysia, Thailand berada dalam satu kawasan yang saling terhubung. Udara tidak mengenal batas negara. Persoalan dari satu wilayah akan berdampak pada wilayah lainnya," ujar SF Hariyanto.
Pemerintah Provinsi Riau terus mempercepat program pengendalian perubahan iklim. Beberapa program yang dijalankan antara lain penurunan emisi gas rumah kaca, pengelolaan sampah menjadi energi listrik, hingga pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui operasi darat, udara, modifikasi cuaca, serta pelibatan masyarakat.
Selain itu, Riau juga tengah menyiapkan skema perdagangan karbon melalui program "Green for Riau". Program ini memperkuat tata kelola pengukuran dan penurunan emisi agar menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat yang menjaga hutan gambut.
"Semakin baik kita melindungi hutan, semakin sedikit kebakaran, semakin rendah emisi, dan semakin besar manfaat ekonomi yang dihasilkan," katanya.
SF Hariyanto berharap Pekanbaru tidak hanya dikenang sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai tempat lahirnya kerja sama rendah karbon bagi kawasan Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Sebagai bagian dari sesi penutup dari penyelenggaraan Forum IMT GT di Pekanbaru, para kepala daerah diajak untuk melakukan
penanaman bibit pohon di Komplek Perkantoran Pemerintah Kota Pekanbaru, Tenayan Raya.
Setiap delegasi mendapat bibit pohon untuk ditanam langsung. Dan bibit bibit pohon yang ditanam adalah jenis buah dan pepohonan.(*)
Listrik Indonesia

