JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat 2026 dikukuhkan hari ini oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Negara. Ada 76 putra-putri terbaik bangsa yang terpilih, mewakili 38 provinsi di Indonesia. Satu dari mereka adalah Rizqy Aditya Siregar, Siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Siak.
Rizqy Aditya Siregar menjadi bagian dari Paskibraka Tingkat Pusat 2026 mewakili Provinsi Riau yang akan bertugas pada upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka.. Dia mengaku sangat bersyukur saat menerima kabar terpilih sebagai anggota Paskibraka. Baginya, kesempatan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tingkat nasional membawa tanggung jawab besar.
“Perasaan saya bercampur aduk antara syukur yang mendalam, haru, dan tanggung jawab yang besar,” ujar Rizqy sehari sebelum dikukuhkan sebagai anggota Paskibraka, Jumat (14/8/2026).
Siswa kelas XI MAN Insan Cendekia (IC) Siak, Riau, itu mengaku pencapaian tersebut tidak hanya dimaknai sebagai prestasi pribadi. Baginya, terpilih menjadi Paskibraka tingkat pusat merupakan jawaban atas doa orang tua, kerja keras yang dijalani selama proses seleksi, serta dukungan keluarga besar madrasah.
Perjalanan menuju titik tersebut pun tidak berlangsung singkat. Rizqy menjalani latihan fisik secara disiplin, mempersiapkan ketahanan mental, sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan. Setiap sore di lapangan dan waktu belajar mandiri menjadi bagian dari proses yang harus dijalani secara konsisten.
“Setiap sore di lapangan, setiap sesi belajar mandiri, dan setiap tetes keringat adalah bagian dari proses panjang yang tidak pernah instan,” katanya.
Bagi Rizqy, tantangan terbesar bukan semata-mata kemampuan fisik. Tekanan selama proses seleksi yang ketat justru menjadi ujian tersendiri untuk menjaga mental tetap stabil. Ia memilih berkonsentrasi pada hal-hal yang dapat dikendalikan, yakni usaha dan persiapannya, ketimbang memikirkan hasil yang belum pasti.
“Saya belajar untuk fokus pada apa yang bisa saya kendalikan, yaitu usaha terbaik saya, daripada memikirkan hasil akhir yang belum pasti,” tuturnya.
Memilih Paskibraka
Perjalanan Rizqy di bidang kepaskibrakaan sempat beririsan dengan kesempatan lain. Ia sebelumnya mendapat kesempatan mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) pada cabang atletik. Namun, karena agenda tersebut berbenturan dengan proses Paskibraka, Rizqy memilih melanjutkan perjuangannya di Paskibraka. Pilihan tersebut kemudian membawanya pada kesempatan untuk mewakili Riau di tingkat nasional.
Di madrasah, Rizqy memang aktif dalam kegiatan organisasi dan kepaskibrakaan. Ia tercatat mengikuti OSIM serta Pasus MAN IC Siak. Di tengah aktivitas tersebut, ia juga tetap menjaga capaian akademiknya. Data pendidikan Rizqy mencatat dirinya berada di peringkat ketiga kelas dengan nilai rata-rata rapor 89,73.
Menurut Rizqy, kuncinya adalah membagi waktu dan memberikan perhatian penuh pada kegiatan yang sedang dijalani. Ketika belajar, ia berusaha fokus belajar. Begitu pula ketika berada di lapangan untuk berlatih.
“Saya menerapkan manajemen waktu yang ketat. Kuncinya adalah fokus penuh saat mengerjakan satu tugas: jika sedang belajar, maka belajar sungguh-sungguh; jika sedang berlatih, maka berlatih dengan totalitas,” katanya.
Dukungan Keluarga dan Madrasah
Di balik perjalanan Rizqy, terdapat dukungan keluarga dan madrasah yang menurutnya memiliki peran besar. Kedua orang tuanya, Muhammad Isnaini Siregar dan Dina Afnita, menjadi pendukung moral selama ia menjalani proses tersebut. Di madrasah, guru memberikan motivasi, doa, serta dukungan agar Rizqy tetap dapat menjalankan kewajiban akademiknya sekaligus mengikuti pembinaan Paskibraka.
“Peran mereka mutlak sangat besar. Keluarga adalah pendukung moral utama saya di rumah,” ujarnya.
Ia juga menyebut lingkungan MAN IC Siak telah memberikan ruang untuk mengembangkan potensi siswa, baik dalam bidang akademik maupun kegiatan kepaskibrakaan. Karena itu, Rizqy tidak melihat keberhasilannya sebagai pencapaian seorang diri. Ia justru menyebut keberhasilan tersebut sebagai bagian dari dukungan keluarga besar madrasah.
“Keberhasilan ini adalah keberhasilan keluarga besar MAN Insan Cendekia Siak,” katanya.
Bukan Sekadar Mengibarkan Bendera
Bagi Rizqy, menjadi Paskibraka tingkat pusat bukan sekadar kesempatan berdiri dalam upacara dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Pengalaman tersebut ia maknai sebagai bentuk pengabdian kepada tanah air.
“Ini adalah bentuk nyata pengabdian kepada tanah air. Menjadi anggota Paskibraka Tingkat Pusat mengajarkan saya bahwa mencintai Indonesia adalah dengan cara memberikan yang terbaik dari diri kita,” kata Rizqy.
Selama mengikuti proses pembinaan, satu nilai yang paling membekas baginya adalah kolektivitas. Ketatnya proses seleksi tidak menghilangkan rasa persaudaraan di antara para peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Tidak ada sosok ‘pahlawan tunggal’ dalam Paskibraka; semuanya adalah tentang kerja sama, kebersamaan, dan kedisiplinan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut sekaligus mengubah cara pandangnya terhadap makna menjadi generasi muda yang mendapat amanah mengibarkan Merah Putih. Menurutnya, amanah tersebut merupakan kehormatan yang harus diikuti komitmen untuk menjaga integritas dan kehormatan bangsa, bukan hanya ketika menjalankan tugas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Rizqy, Paskibraka bukanlah garis akhir. Ia ingin membawa kedisiplinan dan pengalaman yang diperolehnya untuk terus berkontribusi bagi Indonesia, baik melalui pendidikan maupun bidang pengabdian lainnya.
“Prestasi ini hanyalah awal; saya ingin menggunakan kedisiplinan yang saya pelajari untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” katanya.
Rizqy bukan satu-satunya siswa madrasah negeri yang akan membawa nama pendidikan madrasah di panggung Paskibraka Tingkat Pusat 2026. Ada beberapa siswa madrasah negeri yang juga berhasil menembus seleksi dan mendapat amanah serupa, yaitu Adzra Khairy Fadian, Siswi dari MAN 1 Kota Serang yang mewakili Provinsi Banten; dan Khalyana Zahira Sandi siswi MAN 1 Lubuk Linggau. Kisah mereka menjadi bagian lain dari cerita tentang bagaimana siswa madrasah mengambil peran dalam momentum kebangsaan tahun ini.(*)
Listrik Indonesia

