PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Dampak Kebakaran hutan dan lahan di Riau tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi kebakaran dan kobaran api seperti Kabupaten Pelalawan, Kampar.
Dampak kebakaran kini mulai dirasakan dengan pekatnya kabut asap di sejumlah wilayah, juga kondisi udara yang masuk kategori 'Tidak Sehat'.
Dan Kota Pekanbaru menjadi salah satu kota di Provinsi Riau yang kondisi udaranya berada dalam kondisi 'Tidak Sehat'.
Dilansir dari data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi udara di kota Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir sudah dalam kategori 'Tidak Sehat'.
Pada Sabtu (22/8/2026) pagi ini, selain kondisi ruang udara Pekanbaru dipenuhi asap, paparannya juga menyebabkan kondisi udara tidak mendukunmg bagi masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah.
Pada pukul 00.00 dinihari tadi, grafik riwayat PM 2,5 (Particulate Matter) tercatat 76.8 µg/m³, kemudian pada pukul 01.00 WIB mengalami kenaikan menjadi 77.9 µg/m³.
Selanjutnya pada pukul 02.00 WIB tercatat terjadi penurunan tingkat kepekatan partikel udara di bawah 2,5 µg/m³ dan terus menurun hingga pukul 06.00 WIB pagi tadi sebesar 41.6 µg/m³ atau berada dalam kategori sedang.
Namun, pada pukul 07.00 WIB baru-baru ini, tingkat kepekatan partikel udara kembali mengalami lonjakan menjadi 60.3 µg/m³.
Particulate Matter (PM2.5) sendiri adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer).
Dalam penjelasannya, BMKG merilis lima kategori kualitas udara dengan konsentrasi partikulat PM2.5.
Dikatakan baik (Hijau) bila tingkat kepekatannya berada 0-15.5 µg/m³.
Kemudian dikatakan sedang (Biru) bila tingkat kepekatan 15.6- 55,4 µg/m³.
Dikatakan Tidak Sehat (Kuning) bila tingkat kepekatan berada di 55.5-150.4 µg/m³.
Selanjutnya dikatakan Sangat Tidak Sehat (merah) bila tingkat kepekatan 150.5-250.4 µg/m³.
Dan yang tertinggi, masuk dalam kategori sudah berbehaya adalah bila tingkat kepekatan partikel udara mencapai di atas 250,5 µg/m³.(R02)
Listrik Indonesia

