JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Nama KH Maimum Zubair (Mbah Moen) tentunya tak bisa dilepaskan dari sosok Ketua Umum PPP, Romahurmuziy.
Bukan saja dalam statusnya sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), namun juga mengingat peristiwa yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu, dimana Romahurmuziy merevisi doa KH Maimun Zubair (Mbah Moen) saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Pondok Pesantren Al Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang awal Februari 2019 lalu.
Namun, rasa kecewa sepertinya tak bisa dilepaskan oleh tokoh Nahdatul Ulama yang juga ulama kharismatik tersebut pasca mengetahui Romahurmuziy ditangkap KPK terkait suap penempatan pegawai Kemenag di Jawa Timur.
Meski begitu, ia menganggap ini adalah sebuah ujian.
"Ini ujian ya sama dengan keadaan sekarang. Kan nggak ada perselisihan antara umat Islam dengan non-Muslim. Tapi sesama Islam sendiri kadang ada perselisihan. Itu memang Allah menguji dan menciptakan, mengatur umatnya tanpa pandang itu Muslim atau non-Muslim. Mengapa dulu Pak Surya Darma Ali lalu tadi lagi. Saya kecewa, tapi itu takdir Allah," ujar di Kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019).
Mbah Moen mengatakan dirinya tetap menghormati keputusan KPK. Saat ini yang terpenting menurutnya adalah menyelamatkan partai agar tetap stabil.
"Itu urusan KPK dan ada tindakan pasti ada prosedur hukum. Kita harus menghormati hukum. Tapi kita punya partai harus diselamatkan," ujarnya
Mbah Moen menyebut proses hukum harus tetap berjalan. Bagaimanapun juga menurutnya, hukum itu berlaku bagi siapapun di Indonesia.
"Saya, walau bagaimana pun saya datang ingin ada kemaslahatan dan proses hukum adalah hukum. Dan hukum untuk suatu kewajiban bagi siapapun sebagai bangsa Indonesia," ucapnya.
Sebelumnya, KPK telah menetapkan Romahurmuziy sebagai tersangka. Ia ditetapkan sebagai tersangka suap seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi di Kementerian Agama (Kemenag). Diduga Romahurmuziy menerima duit total Rp 300 juta untuk membantu meloloskan seleksi.(R04)
Listrik Indonesia

