SIAK SRIINDRAPURA (RIAUSKY.COM)- Rd bocah 9 tahun berhasil selamat dari upaya penculikan yang dilakukan tetangganya yang juga masih kerabat sekampung ayahnya.
Dengan bersusah payah, Rd yang masih duduk di kelas III Sekolah Dasar tersebut berhasil melarikan diri dari tempat pelaku penculikan menyembunyikannya di dalam sebuah kawasan hutan akasia di tengah malam buta.
Saat itu, Rd bahkan disebutkan sudah dalam posisi kaki dan tangan terikat, serta mulut dilakban. Bahkan, lebih ironisnya, Rd bahkan disebutkan sudah dalam posisi terikat di dalam sebuah karung goni yang memang sudah dipersiapkan pelaku.
Perjuangan Rd menyelamatkan diri dari penculikan itu diungkapkan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Siak AKP M Faizal Ramzani SH SIk dalam press conference terkait kasus tersebut, Senin (1/4/2019) di Mapolres Siak.
Rd yang menjadi korban penculikan berhasil selamat setelah menyusuri hutan akasia seorang diri di malam buta hingga dinihari demi menyelamatkan nyawanya.
Tidak itu saja, dengan cerdas, sang bocah juga segera mencari perlindungan begitu menemui perkampungan dengan mengetuk pintu rumah warga dan menceritakan apa yang menimpanya.
"Bersyukur kita, korban ini cerdas walau masih anak-anak. Terbukti, dia bisa melepaskan diri saat sang penculik lengah serta segera mencari pertolongan. Walau untuk itu harus berjalan selama 5 jam menembus gelapnya malam, ditengah hutan lagi", ujar Kasat Reskrim Polres Siak AKP M Faizal Ramzani SH SIk dalam press conference terkait kasus tersebut, Senin (1/4/2019) di Mapolres Siak.
Sebelumnya, kata Faisal, sebagaimana dilansir dari koranmx masih dalam press conference yang dipimpin Wakapolres Kompol Hariri, pelaku menyembunyikan Rn di hutan akasia dalam kondisi kaki, tangan terikat serta mulut dilakban sembari menunggu uang tebusan yang dimintanya kepada orang tua sebesar Rp100juta.
Saat mulai diikat, korban sempat bertanya pada pelaku: "Mau diapaian, Om? Saya salah apa, Om?” Lalu pelaku menjawab, “Aku kesal sama bapakmu Dit karena tidak pernah ngajak aku kerja, aku didiamkan terus. Jadi kau mau kubawa ke Bandung untuk kawan Y (anak tiri pelaku-red).”
Korban memohon, “Janganlah Om, nanti mamak nangis.”
Permintaan itu dijawab dengan ketus oleh pelaku, “Ya nanti mamak mu sama bapakmu ke sini jemput!”
"Lama tidak? Aku takut, Om,” kata korban memelas.
"Tdak, sebentar saja, nanti bapakmu kemari," tukas pelaku sambil melakban mata korban.
Pada saat matanya dilakban korban mengerang kesakitan, " “Sakit, Om...”.
Lalu pelaku membuka kebali lakban dimata korban dan kemudian melakban mulut korban lalu mengikat kaki korban dengan menggunakan kerudung warna putih biru milik Y. Setelah itu, pelaku dan Y pergi untuk mencari tempat istirahat.
Ketika korban ditinggalkan sendirian inilah, dengan sekuat tenaga berupaya melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Dan berhasil.
"Bayangkan, anak sekecil itu, sendirian di tengah hutan dalam kondisi ketakutan berjalan menyusuri hutan. Syukur Alhamdulillah, dia menuju arah yang tepat yakni pemukiman penduduk," ulas Kasat.
Agar hal serupa tidak terjadi lagi, Faisal mengimbau kepada para orang tua agar lebih ekstra lagi dalam mengawasi anak-anaknya, terutama anak di bawah umur. "Cermati siapa teman mainnya, tempat mainnya juga, kemana saja dalam keseharian, dan lain-lain", pintanya.(R05)
Listrik Indonesia

