Mantap Hijrah, Wanita Cantik Mantan Pramugari Hapus Tato Besar di Punggungnya

Mantap Hijrah, Wanita Cantik Mantan Pramugari Hapus Tato Besar di Punggungnya
Koordinator Mahtan dr Abdul Azis SpU saat melakukan penghapusan tatto pada pasien di Markas Mahtan Jl Swadaya, Makassar, Sabtu (22/6/2019). Foto: tribun timur/sanovra jr

RIAUSKY.COM - Banyak orang mendatangi Markas Masyarakat HijrahTanpa Nama (Mahtan), di Jl Swadaya Makassar. Pada Sabtu (22/6/2019) warga memadati ruang tamu kantor Mahtan tersebut.

Ada yang datang dari Makassar dan banyak lainnya datang dari berbagai daerah kabupaten di Sulsel.

Di antaranya beberapa orang adalah wanita yang rata-rata mengenakan hijab besar menutup rapat auratnya.

Mereka yang hadir di markas Mahtan ini adalah pasien yang ingin menghapus rajah atau gambar yang ada di bagian tubuh, akrab dikenal sebagai tatto.

Para calon pasien ini bahkan sudah ramai mengantre sejak pukul 09.00 Wita.

Salah satu pasien yang menarik perhatian adalah seorang wanita berparas cantik.

Wanita berhijab yang enggan menyebutkan namanya itu, mengaku datang untuk turut menghapus tatto.

Setelah mendaftar dan mendapat giliran di acara Mahtan, perempuan dengan hijab berwarna coklat tersebut, menyodorkan tangannya.

Terdapat tatto bergambar "Love" atau hati berjumlah tiga buah di bagian dalam tangan kirinya.

Tak hanya gambar "Love", tampak pula angka 23 yang ditulis di samping gambar tersebut.

Masih ada lagi, tatto lainnya di bagian jempol tangan kirinya. Semuanya ingin dihapus wanita tersebut.

yang diizinkan memotret di acara itu, sempat mendengar percakapan dokter kulit yang menangani pasien wanita tersebut.

"Ohh hanya sedikit saja tattonya ibu ya?" tanya sang dokter yang juga wanita kepada pasien tersebut.

Pertanyaan itu, sekiranya wajar, karena rata-rata gambar tatto dari pasien yang hadir, sangat banyak atau besar gambarnya.

Wanita tersebut hanya senyum-senyum, lalu menjawab.

"iye, yang di sini memang hanya sedikit. Tapi di bagian punggung saya, ada tatto yang lebih besar," katanya.

Alasan wanita yang mengaku mantan pramugari sebuah maskapai penerbangan domestik ini.

Mantan pramugari ini mengatakan jika memilih membuat tatto karena ditinggalkan suami.

Karena ditinggalkan suami, wanita itu kemudian kecewa dan mengaku putus harapan, hingga memilih jalan membuat tatto.

"Saya buat tatto ini setelah ditinggalkan suami. Saya seperti putus asa dan tidak tahu mau kemana," ujarnya.

Tatto yang di tangan dan di lengan, akunya dibuat saat masih bersama suami.

Lalu di bagian punggung, sebutnya saat ditinggalkan suami hingga ia melampiaskan kekecewaan dengan membuat tatto berukuran besar.

Namun setelah mendalami agama dan tahu kalau tatto itu hukumnya haram, wanita itu kemudian ingin menghapusnya.

Sebagian pasien hapus tatto ternyata rutin datang ke Markas Mahtan untuk melakukan kajian tentang Islam.

Jadi sebelum dilakukan penghapusan tatto, para peserta mempelajari leih dahulu syariat dari memiliki tatto.

Koordinator Mahtan, dr Abdul Azis SpU menjelaskan, selain hapus tatto, kegiatan ini juga menyediakan tutup tindik.

Sebelum dilakukan penghapusan tatto dan tindik telinga, pihak dokter melakukan beberapa hal.

"Sebelum di laser, pasien terlebih dulu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Apakah tidak terkena penyakit yang berbahaya seperti HIV dan lain-lain," ucap dokter alumnus Unhas ini.

Kemudian, pasien disyaratkan menghafal 10 ayat Surat Ar-Rahman. Selanjutnya, pasien diberi obat bius dan dioleskan dibagian yang akan laser.

Obat bius itu harus didiamkan selama sejam sebelum dilakukan penghapusan tatto. Setelah tatto dihapus, dilakukan recovery dengan menggunakan es batu.

"Pasien juga diberikan obat antibiotik dan lain sebagainya. Jumlah pasien sebanyak 230. Tapi kita akan lakukan secara bertahap," papar Koordinator Mahtan, dr Abdul Azis SpU.

Koordinator Mahtan, dr Abdul Azis SpU merupakan Dokter Spesialis Urologi.

dr Abdul Azis menamatkan pendidikan Kedokteran Umum di Universitas Hasanuddin tahun 2002.

Kemudian melanjutkan pendidikan Spesialis Urologi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan lulus pada tahun 2011.

Ia merupakan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) dan Ikatan Ahli Urologi Indonesia (PP IAUI).

Aktivitas lainnya merupakan Deklarator dan Pengurus Indonesia Genito-Urinary Reconstructive Society dan Anggota Dewan Editor Jurnal Urologi Indonesia (JURI). 

Sumber: Tribun-timur.com 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional