Semenanjung Kampar adalah satu hamparan kawasan hutan rawa gambut dengan keanekaragaman hayati yang khas. Iklimnya selalu basah, dengan kondisi tanah yang tergenang. Tebal lapisan gambutnya bisa mencapai 1 hingga 20 meter.
Semenanjung Kampar berada di antara Sungai Kampar dan Sungai Siak, Hutan rawanya membentang hingga 70 kilometer arah utara-selatan, serta 110 kilometer arah barat-timur.
Di tengah Semenanjung Kampar terdapat tiga kubah gambut, terdapat lebih dari tiga danau, dan lima sungai yang mengalir ke Selat Panjang di bagian utara dan selatan Sungai Kampar.
Karena demikian luas, kawasan Semenanjung Kampar termasuk salah satu ekosistem hutan rawa gambut terbesar di Pulau Sumatera. Peranan utama dari kawasan ini sebagai penjaga kestabilan lingkungan terhadap kawasan sekitarnya.
Tangan-tangan durjana nyaris meluluhlantakkannya. Namun upaya tersebut urung terjadi. Kini Semenanjung Kampar 'hidup' kembali...
Penulis: BUDDY SYAFWAN- RIAUSKY.COM
Sebuah tower berwarna merah putih menjulang tinggi membelah langit. Posisinya tepat berada di tengah rerimbunan hutan belantara Semenanjung Kampar, kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.
Dia berdiri di tempat yang sepi. Hanya ada angin, hujan dan suara satwa rimba yang menjadi temannya. Di kaki-kakinya hanya ada bangunan terbuka berukuran 2x2 meter yang mirip tempat berteduh dan sebuah ruang perangkat kelistrikan.
Sekilas, orang pasti menduga kalau tower tersebut adalah menara telekomunikasi yang dibangun oleh perusahaan provider telekomunikasi. Ternyata salah, tower setinggi 48 meter itu adalah menara pemantau gas rumah kaca.
''Selamat datang, saat ini kita berada di Greenhouse Gas (GhG) tower atau menara pemantau gas rumah kaca,'' sapa Nardi Asisten Menejer GhG Monitoring APRIL Group saat menyapa sejumlah jurnalis yang melakukan ekspedisi kecil bersama tim Restorasi Ekosistem Riau (RER)
Nardi menjelaskan tugasnya sehari-hari adalah memastikan alat yang terpasang di puncak menara itu bekerja dengan baik.
Di puncak menara ini, papar dia, perusahaan memasang sejumlah peralatan yang menjadi instrumen untuk mencatat kadar oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), Dinitro Oksida (N2O) dan kadar air (H2O), termasuk data meteorologi seperti suhu dan kelembaban udara.
Alat tersebut menjadi sangat penting perannya bagi perusahaan untuk memantau kondisi lahan gambut dan memastikan kadar emisi dari setiap jengkal lahan yang dikelola oleh perusahaan tetap terjaga.
Alat ini menjadi penting bagi APRIL Group mengingat aktivitas perusahaan ini berada di eksositem gambut dalam terluas yang ada di Sumatera, bahkan di Asia Tenggara.
Dengan luasan yang dikelola mencapai 150.693 hektare, APRIL Group memiliki berkomitmen untuk senantiasa menjaga kondisi kebasahan ekosistem gambut yang ada untuk mencegah sejumlah musibah alam yang disebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang bisa memicu terjadinya pelepasan karbon dalam jumlah besar, salah satunya adalah kekeringan dan kebakaran hutan.
''Kami ingin mengelola emisi karbon di wilayah kami dalam upaya mencapai pengelolaan hutan yang bertanggung jawab,'' ungkap alumni Universitas Riau yang sedang mengikuti pendidikan doktoral di bidang gambut tersebut.
Di tempat ini juga, Nardi menjelaskan bahwa APRIL Group memiliki sarana pendukung yang memadai untuk mengukur besaran emisi yang dihasilkan dari setiap luasan lahan yang dikelola baik dalam bentuk kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), hutan alam maupun lahan terdegradasi.
Setiap hari, timnya selalu melakukan analisa terhadap data yang didapati dari instrumen pengukuran yang ada di puncak menara.
Tak jarang juga dia maupun timnya harus memanjat tower menjulang tinggi ini untuk memastikan seluruh instrumen pengukuran bekerja dengan baik. Khususnya bila mana dalam kondisi selepas hujan atau petir.
Seluruh instrumen ini harus dipastikan bekerja dengan baik untuk mamastikan tidak ada data yang luput, karena akan berpengaruh terhadap langkah yang akan dilakukan di lapangan.
''Saat hujan petir, biasanya, ada petugas yang mematikan peralatan ini, supaya tidak rusak karena tersambar petir. Posisi alat yang berada puncak tentunya kena kena sambaran petir, karena itulah, saat hujan panel listriknya dipadamkan dulu. Soalnya, kalau rusak biaya pembaikannya bisa sangat mahal,'' ungkap Nardi.
Namun, bukan harganya yang mahal saja yang menjadi persoalan bagi perusahaan tempat mereka bekerja. Namun, lebih jauh bagaimana seluruh instrumen pemantauan yang ada di menara tersebut tetap bisa memberikan informasi yang diperlukan untuk mengawal emisi di kawasan tersebut. Perubahan cuaca pun konon bisa mengubah emisi yang ada di permukaan tanah.
Instrumen yang ada di puncak menara ini akan mengirimkan data real time setiap ada perubahan situasi cuaca maupun kondisi emisi gas rumah kaca dari setiap jenis pemanfaatan lahan di kawasan itu.
Pemanfaatan menara pemantau emisi yang harganya per unit diperkirakan mencapai Rp4,5 miliar ini memang menjadi salah satu bentuk komitmen APRIL Group untuk memitigasi potensi perubahan iklim lebih dini, sehingga bisa diambil langkah-langkah awal untuk mengantisipasinya.
''Sebenarnya kita bisa memanjat ke atas, namun karena kondisinya hujan dan petir, kita tidak direkomendasikan untuk naik, karena akan licin dan berbahaya,'' jelas dia.
Kolaborasi Selamatkan Hutan Bersama Masyarakat
Semenanjung Kampar di Sumatra adalah salah satu area lahan dengan ekosistem gambut terbesar di Asia Tenggara.
Dengan luasan berkisar 344.573 hektare, hutan tropis yang ada di dalamnya memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya dan menopang kehidupan spesies satwa liar yang hidup di dalamnya. Dan RER mengelola 150.693 hektar di antaranya.

Posko Harimau ini didirikan dalam upaya menjaga kawasan Semenanjung Kampar dari praktik illegal logging, illegal fishing maupun perburuan liar. Posko ini dikawal oleh Ranger yang berasal dari pemuda dan warga setempat.
Fungsi penting dari Semenanjung Kampar ini juga ditegaskan oleh sejumlah kelompok permerhati lingkungan dan Non Government Organization (NGO) seperti BirdLife International, The International Union for Conservation of Nature (IUCN), Wildlife Conservation Society (WCS), dan World Wildlife Fund (WWF) yang secara berurutan menyatakan kawasan ini sebagai Kawasan Burung Penting (2004), Kawasan Keanekaragaman Hayati Penting (2006), dan Kawasan Konservasi Harimau (2007).
Namun, kawasan hutan ini juga tak lepas dari praktik-praktik perusakan lingkungan yang menyebabkan sebagian dari kawasan tersebut mengalami degradasi yang cukup parah.
Jauh sebelum kehadiran Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang diinisiasi oleh APRIL Group, aktivitas pembalakan liar menjadi pemandangan yang lazim terjadi. Pembalakan liar dilakukan dengan membuat kanal-kanal liar di seputar kawasan hutan tersebut.
Perburuan satwa dan kerusakan lingkungan yang menghancurkan ekologi kawasan menyebabkan banyak populasi satwa maupun fauna berkurang.
Kehadiran RER dalam beberapa terakhir dalam mengelola areal seluas 150.693 hektar atau dua kali luas Singapura secara perlahan telah mengubah wajah Semenanjung Kampar menjadi kawasan yang kembali 'hijau' dan menjadi 'rumah' yang nyaman bagi flora dan fauna endemisnya.
Junior Norris Marpaung, Communication Manager RER di Eco Research Camp, mengungkapkan, ketika RER masuk ke Semenanjung Kampar pada tahun 2015, kondisi lahan yang ada tidak sepenuhnya tidak terjamah.
Banyak ditemukan kanal-kanal yang digunakan untuk mengeluarkan kayu hasil tebangan illegal logging, ada juga beberapa kawasan yang sudah terdegradasi termasuk praktik pembukaan lahan dengan cara bakar.
Total terpantau sebanyak 38 kanal ilegal yang selama ini dibuat untuk mengalirkan kayu dan aktivitas ilegal.
Kanal-kanal liar ini berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem lahan gambut dan menimbulkan kekeringan. Karena itulah, secara bertahap, kanal-kanal tersebut ditutup.
Penutupan kanal-kanal tersebut selain ditujukan untuk memutus aktivitas illegal logging.
Saat ini, jelas Juno, hampir sebagian besar kanal -kanal buatan itu ditutup oleh RER.
Selain itu, untuk mengatur tata kelola permukaan air, RER juga membuat dam-dam di dalam areal kawasan hutan untuk memastikan lahan yang ada tidak mengalami kekeringan.
''Totalnya sudah ada 87 dam dibangun,'' ungkap dia.
Pada tahun 2015 itu juga, RER mulai melakukan langkah-langkah konservasi dan restorasi, dengan melibatkan sejumlah pihak.
''Bersama Bidara, dilakukan upaya edukasi dengan memberikan pemahaman dan mengenalkan pola pertanian yang tetap memelihara keberlangsungan, seperti pertanian organik dan tanpa bakar, juga budidaya ternak,'' jelas Juno.
Sementara bersama Flora Fauna Indonesia (FFI), RER dilakukan upaya pendataan terhadap potensi flora dan fauna yang ada di Semenanjung Kampar.
Pada tahun 2015, FFI mulai memasang sebanyak 225 kamera jebak untuk melihat potensi satwa yang ada di kawasan RER.
Pada tahun 2016, pertama sekali, FFI mengeluarkan hasil pemantauan, dimana ter-capture ada sebanyak 524 jenis tumbuhan dan satwa di areal RER.
Jumlah populasi dan jenisnya itu juga terus bertambah, dimana hingga periode Juni 2023 lalu, setidaknya sudah terdata sebanyak 861 jenis tumbuhan dan satwa, atau ada kenaikan sekitar 300 jenis lebih spesies yang ditemukan.
Dalam mendukung upaya restorasi ini, RER juga melibatkan masyarakat dengan mempekerjakan sebanyak 69 karyawan serta 70 jagawana yang sekitar 80 persen di antaranya adalah masyarakat setempat.
''Jadi Kami ingin tetap berada di tengah masyarakat, bekerja sama dengan masyarakat, jalan bersama masyarakat. Karena itulah, karyawan yang diajak bekerja juga adalah bagian dari masyarakat,'' imbuh dia lebih jauh.
Pola melibatkan masyarakat dalam melakukan restorasi ini, jelas Juno efektif, karena, selain lebih mengenal lingkungan di sekitar areal kelola RER, tentunya lebih memudahkan untuk merangkul dan mengajak masyarakat lainnya untuk bekerja sama melakukan perbaikan ekosistem.
Dan memang, di sepanjang perjalanan, kami banyak menemukan masyarakat yang menjadi bagian dari upaya RER dalam melakukan konservasi dan restorasi ekosistem di Semenanjung Kampar.
Sebagian dari mereka bertugas sebagai jagawana (Ranger) dan sebagian lainnya terlibat dalam aktivitas lainnya yang mendukung upaya konservasi.
Salah satunya adalah Kelompok Nelayan binaan RER yang diketuai Bahtiar yang memiliki anggota tak kurang dari 20 nelayan dari masyarakat di sekitar kawasan hutan Semenanjung Kampar.
Sehari-hari, Bahtiar dan anggotanya beraktivitas mencari ikan di sepanjang aliran Sungai Serkap yang membelah wilayah daratan Semenanjung Kampar.
Sebelum mendapatkan pembinaan oleh RER, banyak nelayan yang masuk ke Sungai Serkap untuk mencari ikan dan udang. Namun, pola yang digunakan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan dan ekosistem.
''Kalau dulu, banyak juga yang menggunakan cara diracun atau bom ikan Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Karena kami ikut menjaga dan mengingatkan,'' ungkap Bahtiar.
Karena perubahan perilaku dalam melakukan tangkap ikan dan memanfaatkan hasil sungai, secara perlahan, kondisi ekosistem Sungai Serkap ini kini kembali membaik, populasi ikan tetap banyak, dan kondisi air sungai juga baik.
Menggambarkan kondisi sungai serkap saat ini tentulah berbeda jauh dengan kondisi sungai-sungai yang berada di dekat permukiman warga.
Airnya yang hitam bening kecoklatan seperti teh, khas air sungai di wilayah gambut yang jarang tersentuh. Bila beruntung, saat melintasi sungai tersebut, akan bisa menyaksikan nelayan menangkap ikan jenis tapah, baung, lele sungai dan lainnya.
Saat ini, mengingat kondisi sungai yang semakin terjaga, dan populasi ikan yang masih berlimpah, banyak nelayan yang sebelumnya beroperasi mencari ikan di luar areal, malah datang dan mencari ikan di Sungai Serkap ini.
Di sini, peran dari masyarakat melayan setempat adalah ikut mengingatkan para pencari ikan tersebut untuk menerapkan pola menangkap ikan yang tidak merusak.
Tentunya tak hanya pencari ikan yang menjadi bagian dari upaya restorasi dengan tetap mendapat ruang dari nilai ekonomis kawasan hutan. Para pencari madu hutan pun di bina secara berkelanjutan.
Berjuang untuk Hidup Sebatang Pohon di Hutan Belantara
Menebang pohon di hutan itu perkara mudah. Namun, pernahkan kita mebayangkan tentang bagaimana proses untuk bisa menanam dan membesarkan sebatang pohon?
Pertanyaan tersebut sepertinya akan terjawab manakala anda berkunjung dan melihat langsung bagaimana proses pembibitan dan penanaman pohon yang dilakukan oleh tim di nurseri dan arboretum milik RER di Semenanjung Kampar.

Aktivitas pembibitan pohon hutan di nurseri milik RER di Semenanjung Kampar./ Foto: riausky.com
Di Semananjung Kampar, RER memiliki tak kurang dari 7 areal nurseri. Dan semuanya berfungsi untuk membudidayakan bibit tanaman hutan yang menjadi endemis di kawasan tersebut. Alias tidak ada jenis tanaman yang didatangkan dari luar Semenanjung Kampar.
''Bibit yang ada di sini, semuanya berasal dari tiga pola budidaya, ada yang berasal dari anakan alami yang diambil dari kaki-kaki pohon indukannya di dalam hutan. Ada juga yang dipelihara dari biji, namun juga ada yangberasal dari penyemaian menggunakan stek,'' ungkap Rocky, salah seorang pekerja RER yang sehari-hari mengurusi tentang budidaya tanaman hutan.
Rocky sudah cukup lama bekerja di pusat pembibitan tersebut. Sudah bertahun-tahun.
Memberikan gambaran tentang umur sebuah tanaman hutan, dia menunjukkan sebatang pohon ramin di dalam sebuah polibag berukuran sedang dengan tinggi berkisar 1 meter.
''Itu pohonnya sudah kita tanam lebih kurang 3 tahun, tapi baru sebesar itu,'' jelas dia.
Belum lagi jenis-jenis pohon lainnya yang tingginya baru berkisar 30-50 centimeter, yang menurut Rocky sudah berumur 1 tahunan.
''Kalau akasia bisa dengan mudah dibudidayakan dan mudah tumbuh, namun untuk tanaman hutan, prosesnya memerlukan kesabaran yang luar biasa,'' ungkap Rocky.
Riausky sempat mencatat beberapa species kayu hutan yang dikembangkan dan dibudidayakan di dalam nurseri ini. Selain ramin (Gonystylus bancanus) juga ada bibit meranti, kempas, kayu malas (Parastemn versteeghii), terentang daun lebar (Campnosperma auriculatum), meranti rawa (Shore macrantha), meranti bakau, pohon redan (Nephoelium maingayi), kelat jambu (Syzygium grande), suntai (Palaquium gutta), resak (Vatica teysmannianna) punak (Tetramerista giabra), pulai (Alstonia cholaris) dan aneka jenis pohon hutan lainnya.
''Setelah sampai umurnya, biasanya dengan tinggi berkisar 50 cm hingga 1 meter, tanaman yang dibudidayakan akan dikembalikan ke habitatnya di tengah kawasan hutan. Biasanya ditanam di sekitar daerah-daerah yang sudah terdegradasi atau mengalami kerusakan. Setelah ditanam, nanti secara berkala kita cek kondisi tumbuhnya,'' jelas Rocky.
Dari 7 lokasi pembibitan yang ada pada saat itu, tak kurang dari 60.000 bibit yang sudah siap tanam dan dikembalikan ke ekosistem aslinya.
RAPP dan Komitmen Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
APRIL Group lewat beberapa unit usahanya merupakan entitas bisnis yang semenjak lebih dari satu dekade lalu sudah menunjukkan komitmennya dalam menerapan aktivitas usaha secara berkelanjutan. Komitmen tersebut dikenal dengan visi APRIL2030.
Komitmen tersebut merupakan bentuk aksi nyata yang dilakukan perusahaan yang terdiri dari empat aspek yakni: Climate Positive (Iklim Positif), Thriving Landscape (Lansekap yang Berkembang), Inclusive Progress (Kemajuan Inklusif), dan Sustainable Growth (Pertumbuhan yang Berkelanjutan).
Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (SFMP 2.0/Sustainable Forest Management Policy) adalah salah satu dari kebijakan yang akan dicapai oleh APRIL Group menjelang 2030, dan dalam beberapa tahun penerapannya telah membawa banyak kemajuan.
Sebagai evolusi dari kebijakan SFMP 1.0 yang diluncurkan pada Januari 2014 lalu, kebijakan ini menjadikan kerangka kerja berkelanjutan (surtainability framework) dari RGE.
Salah satunya diwujudkan dengan peran nyata dalam menciptakan pengelolaan hutan secara berkelanjutan adalah lewat Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar.
Aksi konservasi dan restorasi ini telah membawa banyak perubahan signifikan dalam kondisi kawasan hutan yang memiliki tutupan gambut tebal yang luasnya mencapai 2 kali lipat luas negara Singapura tersebut.
RER sendiri dalam aktivitasnya membentuk kolaborasi yang saling sinergis bersama dengan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan hutan.
Kebijakan pengelolaan hutan secara berkelanjutan sendiri pada dasarnya bertujuan untuk menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dari pengelolaan hutan untuk memastikan manfaat jangka panjang bagi generasi sekarang dan mendatang.
Kebijakan ini salah satunya adalah melibatkan penggunaan sumber daya hutan secara bertanggung jawab sekaligus menjaga kesehatan dan keberlangsungan ekosistem dan menghormati hak-hak masyarakat yang bermukim di wilayahnya.
Langkah konservasi dan restorasi yang dilakukan selama ini juga secara perlahan mulai membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk memastikan keberlangsungan pemanfaatan ekosistem hutan untuk masa depan.
Direktur Utama PT RAPP, grup usaha APRIL Group, Sihol Aritonang menyebutkan, RER merupakan bagian dari perwujudan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 yang dijalankan Grup APRIL.
Dimana APRIL Group berkomitmen menciptakan langkah konservasi 1 banding 1, dimana mengkonservasi atau merestorasi 1 hektare hutan alam untuk setiap hektare hutan tanaman industri yang dikelola.
Perusahaan bahkan akan menyiapkan pendanaan dari setiap ton serat yang digunakan dalam produksi hingga sekitar US$10 juta per tahun untuk investasi di bidang lingkungan.
Mengacu pada visi APRIL Group, tentunya apa yang dilakukan dalam melakukan konservasi dan restorasi di Semenanjung Kampar bukanlah satu-satunya kerja besar yang dilakukan.
Memastikan tidak ada kawasan lindung yang hilang (zero net loss), mencapai nol emisi karbon bersih dari penggunaan lahan dan mengurangi 25 persen entitas emisi karbon dari produk juga menjadi kerja besar yang perlahan tapi pasti kini telah mulai terwujud.
Semoga apa yang menjadi komitmen APRIL Group dalam visi APRIL2030 dengan membangun ekosistem keberlanjutan baik dalam industri dan pengelolaan kawasan hutan dapat terwujud.(***)
Listrik Indonesia

