Menyemai Zapin Untuk Generasi: Ikhtiar Menjaga Marwah Melayu dari Sekolah hingga Sanggar

Menyemai Zapin Untuk Generasi: Ikhtiar Menjaga Marwah Melayu dari Sekolah hingga Sanggar

PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Bumi Lancang Kuning tak membiarkan pelita budayanya redup ditelan zaman. Tari Zapin, sebuah pusaka gerak yang sarat akan nilai-nilai luhur, kini tengah disemai kembali dengan penuh ketelatenan.

Melalui sinergi yang harmoni antara kurikulum pendidikan dan ruang kreatif sanggar seni, Zapin bukan lagi sekadar kenangan masa lalu, melainkan nafas yang dihirup dalam-dalam oleh generasi muda Riau untuk menjaga jati diri di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Langkah strategis ini dimulai dari bangku sekolah, sebuah gerbang awal tempat benih-benih kecintaan terhadap akar budaya mulai ditanamkan.

Sekolah dinilai menjadi pintu awal pengenalan tari zapin kepada anak-anak dan remaja, sementara sanggar seni berperan sebagai ruang pembinaan lanjutan yang lebih mendalam. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting agar zapin tidak hanya dikenal secara teori, tetapi juga dipraktikkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bumi Lancang Kuning.

Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menjelaskan bahwa pihaknya telah menganyam kearifan lokal ke dalam struktur pendidikan melalui muatan lokal. Satu diantara jalur utama yang ditempuh adalah melalui kerja sama dengan dinas-dinas terkait.

"Kami telah menitipkan masukan kebudayaan dalam kurikulum pendidikan, sebagaimana titah peraturan daerah, agar Zapin senantiasa menjadi ruh dalam proses belajar mengajar anak cucu kita," tuturnya di Pekanbaru, Sabtu (10/01/2026).

Diungkapkan, langkah ini diyakini mampu menanamkan kecintaan terhadap zapin sejak dini. Generasi muda tidak hanya mengenal tarian ini sebagai tontonan, tetapi juga bagian dari identitas diri mereka sebagai generasi Melayu.

"Jadi didalam tari zapin itu sudah rangkum banyak budaya Melayu Riau. Seperti dari alat musik melayu, baju kebaya labuh kekek dan cekak musang, hingga gerak tarian itu sendiri. Sehingga, anak-anak zaman sekarang bisa belajar dan mengetahuinya mulai dari sekolahan," ungkapnya.

Zapin adalah sebuah ensiklopedia kebudayaan Melayu yang utuh dan bergerak. Di dalam setiap liukan tari, terangkum filosofi alat musik Melayu yang magis, keanggunan busana kebaya labuh kekek, hingga kewibawaan cekak musang yang tak lekang oleh masa. Melalui pendidikan formal, anak-anak Riau kini tak hanya menjadi penonton di pinggir lapangan sejarah, tetapi mulai mengenali wajah identitas mereka sendiri melalui gerak-gerak yang diajarkan sejak dini.

Namun, pengenalan saja tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan pembinaan yang mendalam. Di sinilah sanggar seni mengambil peran sebagai kawah candradimuka bagi para pendekar budaya muda.

Tania Dwika Putri, pegiat seni dari Sanggar Tengkah Zapin yang juga mengabdi sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UHTP, menegaskan bahwa kolaborasi antara sekolah, sanggar, dan komunitas adalah trinitas penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi.

"Sekolah adalah pintu perkenalan, namun sanggarlah tempat ruh Zapin dibina secara konsisten dan berkelanjutan," ujarnya.

Diterangkan, setelah tahap pengenalan di sekolah, peran sanggar seni menjadi sangat krusial sebagai ruang pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan. Di sanggar, para penari muda tidak hanya belajar gerak dasar, tetapi juga memahami filosofi, sejarah, dan nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Zapin. Kemudian, sanggar menjadi ruang pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan. Sementara komunitas budaya membuka ruang apresiasi melalui festival pertunjukan.

Ia menambahkan, keberadaan pentas seni menjadi ajang penting untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Oleh karena itu, sanggar tidak hanya fokus pada pelatihan teknis tari, tetapi juga pada upaya membangun kesadaran budaya di kalangan generasi muda.

“Sanggar Tengkah Zapin berupaya berada di tengah-tengah peran tersebut, agar zapin tidak hanya dipelajari, tetapi juga dipraktikkan dan diwariskan secara nyata,” tuturnya.

Tania menjelaskan, bahwa sanggar berfungsi sebagai ruang tempat nilai-nilai luhur diwariskan melalui praktik nyata. Sehingga, Zapin tidak hanya menjadi teori yang beku di dalam buku, melainkan gerak yang hidup dan berdenyut dalam keseharian masyarakat Riau yang dinamis.

Komunitas budaya pun turut hadir sebagai panggung apresiasi, tempat Zapin merayakan eksistensinya melalui festival dan pertunjukan yang memukau mata. Pentas seni dipandang bukan sekadar tontonan, melainkan ajang pengukuhan rasa bangga terhadap warisan leluhur.

Ia menambahkan, keberadaan pentas seni menjadi ajang penting untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Oleh karena itu, sanggar tidak hanya fokus pada pelatihan teknis tari, tetapi juga pada upaya membangun kesadaran budaya di kalangan generasi muda.

“Sanggar Tengkah Zapin berupaya berada di tengah-tengah peran tersebut, agar zapin tidak hanya dipelajari, tetapi juga dipraktikkan dan diwariskan secara nyata,” tuturnya.

Sanggar Tengkah Zapin sendiri berupaya menjembatani kesenjangan antara tradisi dan modernitas, memastikan bahwa setiap gerak yang ditarikan tetap berakar pada pakem, namun tetap mampu memikat sukma penonton masa kini. Dalam proses pembelajaran, Sanggar Tengkah Zapin juga menjadikan berbagai varian zapin sebagai rujukan utama. 

Perempuan yang dikenal sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi itu juga mengaskan, hal itu dilakukan agar para peminat memahami kekayaan bentuk dan ragam tari zapin yang berkembang di Riau dan wilayah Melayu lainnya.

“Masing-masing zapin ini punya kekhasan tersendiri, baik dari segi gerak, irama musik, maupun fungsi sosialnya, namun tetap berakar pada nilai zapin Melayu. Berbagai varian ini menjadi rujukan utama dalam proses pembelajaran hingga pengembangan karya,” ucapnya.

Meski demikian, Tania tidak menampik bahwa tantangan terbesar dalam menjaga eksistensi tari zapin saat ini datang dari perubahan minat generasi muda. Arus budaya modern dan digital membuat sebagian anak muda lebih tertarik pada seni populer dibandingkan seni tradisi.

Menjawab tantangan tersebut, kreativitas menjadi senjata utama untuk menjangkau audiens yang lebih luas tanpa harus menanggalkan marwah tradisi. Inovasi pada tata panggung yang megah, kostum yang tetap sopan namun estetik, hingga pemanfaatan media sosial sebagai ruang pamer budaya, menjadi strategi jitu untuk memperkenalkan Zapin ke kancah global. Dengan sentuhan modernitas yang bijak, Zapin diharapkan mampu bertransformasi menjadi tren baru yang segar bagi mata dunia.

Kisah pelestarian Zapin di Riau adalah sebuah manifesto tentang keteguhan hati para penjaga budaya. Dengan sinergi yang kokoh dan konsistensi yang tak pernah padam, Zapin diyakini akan terus menari melintasi zaman, membuktikan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang mati, melainkan sebuah warisan yang terus tumbuh dan mekar di hati setiap insan Melayu.

"Tantangan terbesar dalam menjaga eksistensi tari zapin saat ini adalah perubahan minat generasi muda di tengah arus budaya modern dan digital. Zapin sering dianggap kurang menarik jika tidak dikemas dengan pendekatan yang sesuai zaman. Dengan kreativitas dan kolaborasi, Zapin akan tetap relevan dan abadi," pungkas Tania menutup narasinya.

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional