PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Zapin bukan sekadar ayunan langkah kaki di atas debu, melainkan sebuah manuskrip bisu yang melukiskan perjalanan sejarah dan keteguhan karakter insan Melayu. Zapin adalah cerminan identitas yang terus tumbuh, mengakar kuat dalam palung budaya yang paling dalam, dan mekar menjadi bunga peradaban di tanah Riau.
Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, sang penjaga marwah dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, bertutur dengan penuh khidmat bahwa Zapin adalah cermin bening dari jiwa yang diwariskan lintas masa. Baginya, setiap kelentikan tangan yang lembut laksana ombak membelai pantai, yang seketika berubah menjadi hentakan kaki yang bertenaga, adalah tamsil dari sifat asli orang Melayu. Mereka dikenal lembut dalam tutur kata dan perangai, namun memiliki ketegasan prinsip yang tak tergoyahkan dalam memaknai hidup.
Dari pesisir berpasir hingga daratan yang rimbun, Zapin tumbuh subur bak bunga di taman firdaus, sebagaimana diungkapkan oleh Tania Dwika Putri dari Sanggar Tengkah Zapin. Keberagaman ragamnya mulai dari Zapin Api yang membara, Zapin Meskom yang syahdu, hingga Zapin Siak Sri Indrapura, Zapin Pecah Dua Belas, dan Zapin Maharani telah dipatrikan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan ini menjadi saksi betapa denyut nadi jati diri masyarakat Riau tak pernah padam oleh sapuan zaman yang kian menderu.
“Zapin ini tak hanya sekadar sebuah pertunjukan seni, melainkan representasi identitas budaya Melayu yang kaya dan beragam. Gerakannya yang lemah gemulai, seperti ombak di laut, berpadu dengan hentakan kaki yang dinamis. Itu mencerminkan karakter orang Melayu yang dikenal lembut, namun juga tegas dalam makna yang positif," kata Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, Sabtu (10/01/2026).
Sementara itu, pegiat seni dari Sanggar Tengkah Zapin, Tania Dwika Putri, menyebut bahwa zapin di Riau tumbuh subur di wilayah pesisir maupun daratan, menjadikannya sebagai salah satu ekspresi budaya yang paling hidup di tengah masyarakat. Kekayaan zapin itu juga tercermin dari keberagaman variannya yang diakui menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
“Di Riau, zapin berkembang sangat beragam dan hidup di masyarakat pesisir maupun daratan. Beberapa zapin yang paling dikenal sekaligus sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) antara lain Zapin Api, Zapin Meskom, Zapin Siak Sri Indrapura, Zapin Pecah Dua Belas dan Zapin Maharani,” ujar Tania.
Ia menambahkan, meskipun setiap jenis zapin memiliki keunikan tersendiri, semuanya tetap berpijak pada akar nilai budaya Melayu yang sama. Oleh karena itulah, sudah seharusnya tarian ini patut dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari jati diri masyarakat Riau.
“Masing-masing zapin ini punya kekhasan tersendiri, baik dari segi gerak, irama musik, maupun fungsi sosialnya, namun tetap berakar pada nilai Melayu,” tambahnya.
Senada dengan itu, Hendra Burhan, sang pengelana seni Riau, menyibak tabir rahasia bahwa setiap lekuk tubuh dalam tarian ini adalah bait-bait petuah yang hidup. Melalui gerak yang ritmis, Zapin menjelma menjadi guru yang tak berucap, menyampaikan pesan-pesan moral yang sangat relevan dengan napas kehidupan sehari-hari. Baginya, tarian ini adalah tali temali yang mengikat erat kehidupan sosial masyarakat Melayu dengan nilai-nilai luhur yang mereka junjung tinggi.
“Tari zapin di Riau sangat erat sekali di kehidupan masyarakat Melayu. Sebagai salah satu contoh pada gerak atau ragam Siku Keluang mempunyai makna cerdas berfikir dan peduli pada lingkungan sekitar,” jelasnya.
Diterangkan, nilai-nilai tersebut menjadi pedoman tidak tertulis bagi masyarakat dalam membentuk sikap dan perilaku sosial. Tidak hanya itu, setiap detail gerakan tubuh juga memiliki arti simbolik yang sarat dengan pesan etika.
“Kemudian pada gerak gelombang pasang mempunyai makna ketekunan dan usaha tiada henti untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Lalu, makna tangan sebelah kiri yang dikepal sebagai tanda siap menerima perintah dengan penuh tanggungjawab,” terangnya.
Adab Melayu yang rendah hati pun tersirat jelas pada pandangan mata para penari yang senantiasa menunduk, sebuah pengingat bahwa tak ada tempat bagi kesombongan dalam kefanaan dunia. Di sisi lain, kepalan tangan kiri yang kokoh menjadi saksi bisu akan kesiapan seorang hamba dalam memikul amanah dan tanggung jawab dengan sepenuh jiwa. Gerakan ini adalah janji setia pada tugas, sebuah simbol kepatuhan yang berlandaskan pada integritas diri.
"Pada kepala atau pandang yang menunduk bermakna di kehidupan tidak boleh sombong dan bermegah-megah,” tuturnya.
Alam dan lingkungan menjadi tinta yang mewarnai setiap gerakan, menciptakan perbedaan karakter yang memikat antara Zapin pesisir dan daratan. Hendra menjelaskan bahwa Zapin Siak yang lahir di lingkungan istana tampil dengan wibawa yang tegas dan pasti, sangat kontras dengan Zapin Meskom yang mengalun gemulai bak riak gelombang di selat yang tenang. Perbedaan ini adalah bukti betapa eratnya hubungan antara raga manusia dengan tanah tempat mereka berpijak, menciptakan harmoni yang unik namun tetap satu akar.
“Kalau pada gerak lainnya, di wilayah Riau, sebagaimana zapin itu adalah bersumber dari lingkungan dan alam tentunya ada beberapa perbedaan. Seperti contoh zapin Siak yang berkembang pada wilayah istana yang gerakannya lebih tegas dan pasti berbeda pada zapin Meskom yang gerakannya lebih mengalun seperti gelombang,” ungkapnya.
Menilik catatan sejarah emas, pola langkah Zapin tradisi Siak dimulai dengan sebuah ritual sakral yang disebut Selo Sembah. Pada masa silam, gerakan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada raja dan para pembesar, yang diiringi oleh rintihan solo gambus selodang yang menyayat kalbu. Alunan melodi tersebut seolah menjadi pembuka ruang bagi para penari untuk mulai merajut kisah, menyatukan rasa hormat dengan keindahan gerak yang dipandu oleh lirik-lirik puitis dari sang pemain gambus.
Nilai-nilai samawi pun terpahat kuat dalam gerak Alif Satu dan Alif Dua, di mana jumlah langkahnya menjadi simbol dari Rukun Islam serta pedoman agung Al-Qur’an dan Hadits. Dalam setiap "sut" atau langkah yang dilakukan, terselip doa dan dzikir yang tak terucap, menjadikan panggung Zapin sebagai hamparan sajadah tempat nilai-nilai religiusitas menari dengan anggun di bawah naungan cahaya Ilahi, mengingatkan manusia pada tujuan akhir penciptaannya.
Sebagai puncak dari segala filosofi, Zapin merajut empat langkah utama yang melambangkan sifat mulia Sang Rasul shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Rangkaian tiga belas pola Bungo Alif, mulai dari Geliat hingga Tongkah, berdiri tegak sebagai representasi tiga belas rukun salat yang harus dijaga. Tarian agung ini kemudian ditutup dengan syahdu melalui Pecah Delapan Sut, sebuah simbol pembersihan diri lewat wudu, yang mengunci seluruh rangkaian gerak dalam balutan spiritualitas yang abadi dan suci.
Listrik Indonesia

