Persidangan Ini Akhirnya Buka Banyak Fakta Hubungan Abdul Wahid - SF Hariyanto

Persidangan Ini Akhirnya Buka Banyak Fakta Hubungan Abdul Wahid - SF Hariyanto
Plt. Gubernur Riau SF Hariyanto hadir sebagai saksi dalam persidangan perkara dugaan rasuah yang melibatkan Gubernur Riau non aktif, Abdul Wahid, Rabu (2/6/2026).

PEKANBARU (RIAUSKY.COM)- Persidangan kasus dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan Gubernur Riau non aktif, Abdul Wahid, Rabu (3/6/2026) membuka banyak tabir kelabu yang selama ini terbangun di dalam narasi publik.

Kehadiran Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto menjadi saksi dalam persidangan yang berlangsung dalam suasana ruangan tertutup tersebut menjawab banyak tanda tanya publik tentang kondisi hubungan kedua pemimpin daerah Riau hasil Pilkada 2024 lalu yang sebenarnya tidak baik-baik saja.

Dalam suasana yang tampak tegang, kikuk yang terpancar dari wajah kedua kolega politik ini, Abdul Wahid membuka sapaannya dengan kalimat ''Saya senang, melihat Pak SF ada di sini. Selama ini, semenjak OTT belum pernah ketemu,'' sapa Wahid.

Sebuah pertanyaan yang seolah menjadi tamparan sarkastik menjelaskan kepada publik bahwa semenjak Abdul Wahid ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa bulan lalu, belum sekali pun SF Hariyanto yang kemudian ditunjuk menjadi Plt. Gubernur Riau datang menjenguk.

Dalam persidangan yang layaknya dialog hati ke hati itu, publik yang ada di dalam ruangan sidang  dibawa ke masa lalu indah saat duet politik Abdul Wahid dan SF Hariyanto yang menggunakan tagline ''Bermarwah'' atau Bersama Membangun Riau Wahid-Hariyanto.

Wahid memulainya dengan pertanyaan seputar apakah dia pernah berkeinginan mencalonkan diri sebagai gubernur pada Pilgub Riau lalu.    

"Apakah saya meminta jadi gubernur?" tanya Abdul Wahid kepada SF hariyanto yang duduk di kursi saksi.

Meski tidak menyinggung langsung pada substansi perkara yang membelit Abdul Wahid, namun disana Abdul Wahid terlihat ingin menjelaskan kepada khalayak bahwa dia tidak pernah meminta untuk didudukkan sebagai calon gubernur kala itu.

SF Hariyanto, sebagaimana lazimnya hanya menjawab dengan nada datar dan suara yang serak-serak putus juga singkat, bahwa kalau pada momen tersebut awalnya dia tidak ingin mencalonkan diri.

Dikatakan dia, laiknya etika birokrasi, dia merasa tidak etis memutuskan untuk maju karena pada saat bersamaan, Gubernur Riau incumbent, Syamsuar juga masih memiliki keinginan untuk kembali mencalonkan diri.

"Saya disuruh maju, sementara Pak Syamsuar juga ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya, secara etika tidak bagus melawan atasan,"  jelas Hariyanto.

Di tengah perjalanan, jelas SF Hariyanto lagi, ternyata Syamsuar  memutuskan tidak maju jadi gubernur. Karena itulah, dia meminta Abdul Wahid untuk  maju.

''Ya majulah, kata dia waktu itu" kata SF  mengenang diskusi kala itu.

"Bapak maju (gubernur,red) dan saya wakil," ungkap dia lagi.

Abdul Wahid melanjutkan dengan menjelaskan kondisi hubungan keduanya pasca terpilih.

Wahid  menyebutkan kalau  SF Hariyanto sempat enggan dipanggil sebagai wakil gubernur.

"Semua sudah saya rasakan. Mulia hati bapak," kata Abdul Wahid kepada Wahid lagi.

SF pun menjawab singkat atas penjelasan tersebut dengan mengatakan kalau hal tersebut adalah hal yang biasa saja baginya.

Situasi pertanyaan Wahid pun kini semakin menjurus, dengan mengungkit beberapa hal yang menurutnya pernah disampaikan oleh SF Hariyanto.

Misalnya terkait bocornya rekaman proses pemeriksaan terhadap dirinya di gedung KPK yang dikatakan pernah diperlihatkan langsung oleh SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.

Wahid pada kesempatan itu juga menanyakan kepada SF Hariyanto tentang upaya meminta maaf bahkan sambil mencium tangan.

"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid sembari menggiring pertanyaan di momen mereka dipertemukan oleh Kapolda Riau.

Namun, pertanyaan tersebut langsung membuat SF Hariyanto bereaksi.

""Saya tidak pernah minta maaf ataupun cium tangan bapak. Siapa bapak kiranya, saya minta maaf," balas  SF Hariyanto balik bertanya

SF Hariyanto menegaskan kalau dia tidak pernah mencium tangan Abdul Wahid.

Suasana tegang di ruang persidangan masih belum mereda. Karena lagi, Abdul Wahid bertanya kepada SF terkait dengan pembagian tugas antara keduanya.

"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," tegas Wahid seolah ingin mengklarifikasi rumor yang selama ini berkembang.

Wahid terus mencecar SF Hariyanto dengan pertanyaan berikutnya terkait hal yang menyebabkan SF  marah kepada dirinya.

''Saya cukup baik dan akrab dengan Pak SF Hariyanto ini Yang Mulia. Mengapa bapak bisa marah dan merasa tidak saya tak memperankan sebagai wakil gubernur," tanya Wahid.

Tapi pertanyaan tersebut lagi-lagi dijawab diplomatis oleh SF. "Bapak saja yang jawab sendiri," jawabnya.

Hariyanto menjelakan, bahwa selama dia menjabat sebagai wakil gubernur dia  merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan di pemerintahan.

"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" tanya SF kembali.

Ada cukup banyak pertanyaan dan jawaban dari Wahid dan SF Hariyanto atas persoalan yang diduga menjadi akar keretakan hubungan antara keduanya.

Di dalam ruangan sidang, suasana tampak membuat banyak pasang mata yang hadir menjadi sangat serius. Namun, di luar ruang sidang, suasana sempat panas, karena awak media tidak diberikan kesempatan untuk memasuki ruang sidang.

Persidangan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Pekanbaru ini menjadi salah satu momen persidangan yang cukup ramai menyedot perhatian publik di Provinsi Riau, karena mempertemukan Abdul Wahid dengan SF Hariyanto.(R04)

 

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional