Pemprov Riau Siapkan Regulasi Distribusi Daging Sapi

Pemprov Riau Siapkan Regulasi Distribusi Daging Sapi
Firdaus
PEKANBARU (RIAUSKY.COM) - Pemprov Riau tengah menyiapkan regulasi yang mengatur distribusi daging sapi untuk mengendalikan harga. 
 
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau Muhammad Firdaus mengatakan dari laporan dinas terkait di kabupaten kota dan hasil pemeriksaan pihaknya, alur distribusi daging sapi di daetah tersebut terlalu panjang.
 
"Ada delapan mata rantai distribusi daging sapi di Riau dari laporan kabupaten dan kota, sedangkan dari pemeriksaan kami ada sepuluh mata rantai pasokan," katanya di Pekanbaru, Rabu (24/8/2016) seperti dimuat Bisnis.
 
Akibat panjangnya mata rantai pasokan daging sapi tersebut dari asal pemasok hingga ke pedagang lokal, harga komoditas strategis itu di Pekanbaru mencapai Rp120.000 per kilogramnya.
 
Adapun di Pekanbaru harga daging sapi di daerah itu berada di harga rerata Rp115.000-Rp120.000 per kilogramnya.
 
Untuk mengatasi masalah tersebut, Disperindag berencana memanggil pemasok atau distributor terkait daging sapi agar mengetahui secara utuh masalah ada.
 
Lalu, pemprov akan membuat regulasi yang bakal mengatur ulang jalur distribusi daging sapi sehingga harganya bisa ditekan.
 
"Dari Lampung asal daging sapi sampai ke pasar lokal, tiap distributor sudah ambil untung, ini yang akan diatur ulang agar harganya bisa ditekan dari Rp120.000," katanya.
 
Sementara itu, Wakil Ketua TPID Riau yang juga Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Riau Ismet Inono mengatakan daerah itu masih sangat bergantung dari daerah tetangga.
 
"Riau masih sangat bergantung ke daerah tertangga, termasuk daging sapi, jadi perlu distribusi panjang dari luar daerah ke Riau. Akibatnya kalau ada gangguan di daerah asal pemasok, harga akan langsung naik dan ini menjadi masalah bersama yang harus diselesaikan oleh pemda," katanya.
 
Selain masalah rantai distribusi, pasar tempat menjual barang kebutuhan pokok di Riau juga belum kompetitif. Hal ini disebabkan belum ada pasar induk di Riau sehingga distribusi barang tidak terkonsentrasi pada satu titik pasar.
 
Akibatnya harga barang kian tidak kompetitif yang disebabkan mata rantai distribusi antar pasar juga belum maksimal.
 
"Selalu ada pemain di tengah-tengah itu antara produsen ke konsumen di pasar tradisional tadi. Ini juga harus diperhatikan karena pemain ini yang mendapatkan margin tinggi dibandingkan petani," katanya. (R02)

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional