RIAUSKY.COM - Gara-gara tak ada ambulans, jenazah Iti Bin Ahu (45) terpaksa diangkut menggunakan motor pengangkut sampah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Jenazah warga Kampung Cibeber RT 07/04 Desa Cikahuripan, Kecamatan Kelapa Nunggal itu diangkut menggunakan motor sampah karena jarak rumah duka dengan tempat pemakaman cukup jauh. Jaraknya sekitar 2 kilometer.
Tetangga almarhumah, Ujang (38) tak kuasa menahan tangis. Ujang iba melihat kesulitan hidup yang dialami tetangganya hingga akhir khayat.
“Ibu itu meninggalnya kemarin (Ahad). Jam 3 sore sampai jam 5 belum ada kendaraan,” ujar Ujang yang juga driver motor sampah seperti dimuat Pojokjabar.com, Senin malam (5/3/2018).
Tak ingin menunggu mobil ambulans berlama-lama lagi, warga akhirnya berinisiatif mengankut jenazah Iti menggunakan sepeda motor sampah.
Warga kemudian merekam detik-detik almarhum dinaikkan ke dalam motor sampah dan diangkut menuju tempat pemakaman.
Dalam video berdurasi 30 detik itu, terlihat warga menggotong dan mengangkat keranda berbalut kain bertuliskan kalimat syahadat berwarna hijau.
Setelah menempuh jarak dua kilometer, akhirnya jasad Iti tiba di tempat pemakaman Cibeber Satu. Selanjutnya, Iti dimakamkan.
Ujang menceritakan, sebelum meninggal, Iti sudah lama sakit-sakitan. Ia selalu menolak dibawa ke rumah sakit dan hanya mengonsumsi obat warung lantaran tidak memiliki biaya.
“Sakitnya satu tahunan lebih, karena tidak dibawa ke rumah sakit. Enggak mau dibawa ke rumah sakit. Ya, paling diobatin itu sama obat kampung,” ungkapnya.
Ujang menuturkan, Iti menolak bukan tanpa alasan. Selain merasa tidak mampu, ia juga meyakini bahwa berobat ke rumah sakit membutuhkan biaya banyak.
“Namanya juga tidak mampu bagaimana, ya, pak,” kata Ujang.
Iti tinggal di rumah tidak layak huni. Ia meninggalkan dua anak, satu perempuan bernama Umi dan lelaki bernama Jaan.
Meski Umi dan Jaan sudah berumah tangga, namun kondisi keduanya tak jauh beda dengan ayahnya, Iti.
“Memang Ibu Iti di rumahnya sendiri. Anaknya udah pisah rumah, tapi juga orang tidak mampu,” ungkap Ujang.
Ujang mengatakan, sudah meminta mobil Desa Siaga untuk membantu mengantarkan jenazah ke pemakaman. Namun permohonan itu ditolak dengan alasan mobil siaga memiliki kursi di dalamnya. Sehingga hanya diperuntukan untuk orang sakit.
“Kalau mobil desa hanya untuk orang sakit saja. Dan Puskesmas sini setahu saya belum punya ambulans,” pungkasnya. (*)
Listrik Indonesia

