BENGKALIS (RIAUSKY.COM) - Abdul Rasyid adalah seorang ulama berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan pendiri dari Pedekik, sebuah desa di Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis.
Abdul dilahirkan pada tahun 1825 di Dukuh Kaputian, sebuah dusun di Desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun, sebagai anak dan putra dari pasangan Hasan Wage dan Bunawi. Ia merantau ke Bengkalis menggunakan perahu kayu dari Kebumen dan melintasi Selat Malaka bersama dengan keluarganya.
Selama menempuh perjalanan menuju Bengkalis, ia ditemani oleh istrinya yang bernama Halimah dan saudara iparnya yang bernama Nur. Mereka merantau dengan bertujuan untuk mencari daerah baru yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk menyebarkan agama Islam.
Setelah tiba di Bengkalis, Abdul bersama dengan keluarganya menetap di Desa Meskom, sebuah desa dengan kondisi masyarakat yang masih sederhana dan dikelilingi oleh pohon kelapa yang tinggi serta deru angin laut. Putranya yang bernama Misbah kemudian lahir di desa tersebut, tepatnya di daerah yang dikenal sebagai Kelapa Cabang yang kemudian menjadi bagian dari wilayah Desa Teluk Latak.
Ia kemudian menghabiskan hari-harinya dengan bersosialisasi bersama dengan masyarakat, berdakwah dan mengajarkan agama Islam. Abdul tidak hanya berdakwah melalui kata-kata, melainkan juga berdakwah melalui teladan hidup. Ia menolong kaum yang lemah, menasihati mereka yang khilaf dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada siapa saja yang ingin belajar.
Maka, perlahan tapi pasti, namanya mulai dikenal di sekitar Desa Meskom dan Desa Kelapapati. Akan tetapi, hati Abdul tidak pernah berhenti bergetar oleh panggilan pengabdian yang lebih luas. Ia merasa bahwa banyak wilayah di daerah tersebut belum tersentuh dan banyak tempat yang menunggu untuk dimanfaatkan sehingga menimbulkan tekadnya untuk membuka hutan belantara dan mengubahnya menjadi tempat kehidupan masyarakat yang subur, bermanfaat dan penuh berkah.
Pada waktu tersebut, terdapat sebuah warung milik seorang Tionghoa bernama Kek yang terletak di sekitar hutan lebat yang luas, sunyi dan sering dianggap dihuni oleh makhluk halus. Para warga di daerah sekitar enggan mendekati hutan tersebut dan menyebutnya sebagai “hutan keras”.
Namun, Abdul menganggap bahwa hutan tersebut bukan merupakan ancaman, melainkan ladang pahala dan ujian keimanan. Ketika dirinya mengajak masyarakat untuk bersama-sama membuka hutan tersebut, banyak masyarakat yang ragu karena merasa takut dan pesimistis.
Sebagian besar masyarakat bahkan menentang Abdul secara sinis dengan mengatakan bahwa “Kalau kiai itu benar-benar sanggup membuka hutan ini, maka kami semua akan datang berguru kepadanya.” Ia kemudian tersenyum dan tidak membalas dengan kemarahan karena memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan.
Abdul meyakini bahwa setiap langkah yang diniatkan karena Allah SWT akan mendapatkan kemudahan dalam pelaksanaannya. Bahkan ketika ada yang mengingatkan kepada dirinya bahwa kawasan yang hendak dibukanya tersebut terkenal sebagai “kampung ular” karena dipenuhi oleh ular akibat hutan yang masih lebat, ia tetap teguh.
Ia memiliki keyakinan bahwa tempat yang paling ditakuti oleh manusia sekalipun bisa menjadi lahan keberkahan jika disentuh dengan niat yang tulus dan kerja yang ikhlas.
Pada suatu malam, di bawah paparan cahaya bulan yang tertutup sebagian awan, Abdul membawa anaknya yang bernama Misbah (yang kemudian dikenal sebagai Muhammad Ichsan) yang pada saat itu masih kecil menuju ke hutan yang ingin dibuka dan kemudian berjalan secara perlahan sambil menyusuri semak belukar.
Sebelum melanjutkan perjalanan, ia menatap muka anaknya dan berpesan untuk tidak menanyakan mengenai apapun yang dilihat oleh dirinya dan memintanya untuk tidak melihat ke belakang. Misbah yang mendengarkan pesan tersebut kemudian mengangguk sambil menggenggam erat jari Abdul.
Ketika mereka tiba di tengah hutan, ia menancapkan tongkat miliknya ke tanah lalu memejamkan mata sambil menggerakkan bibirnya secara perlahan dan melantunkan doa serta zikir yang tidak terhitung. Kemudian, udara di sana tiba-tiba berubah dan angin berhenti bertiup.
Hutan yang tadinya gelap seketika menjadi terang benderang, seolah-olah diterangi oleh cahaya ribuan lampu dari bawah tanah. Dari balik pepohonan, muncul berbagai jenis binatang buas, sosok besar yang memiliki bayangan hitam dan berbagai makhluk aneh yang menatap dengan mata yang berapi.
Namun, Abdul tetap tenang sambil berdiri tegak dengan memegang tongkat di tangannya. Ia tidak merasa takut sama sekali karena memiliki keyakinan yang lebih besar daripada ketakutan. Malam tersebut menjadi saksi bahwa manusia yang beriman mampu menaklukkan rasa takut dengan menggunakan doa. Setelah melaksanakan latihan kerohanian, Abdul menandai tempat tersebut dan memulai kegiatan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran.
Terdapat sebuah kisah lama yang diceritakan secara turun temurun oleh penduduk desa. Pada suatu malam, ia berkunjung ke rumah saudara iparnya, yakni Nur, dan mengobrol santai di sana. Mereka mengobrol hingga larut malam dan diketahui oleh semua orang bahwa mereka tidak pergi ke mana-mana.
Pada keesokan paginya, ketika Abdul bertemu kembali dengan Nur, ia mengatakan sesuatu dengan suara pelan “wingi bengi aku lungo neng Jawa, bojoku séda.” yang memiliki arti “tadi malam aku pergi ke Pulau Jawa, istriku yang pertama telah meninggal.” Nur dan masyarakat yang mendengarnya sempat menganggap hal tersebut sebagai candaan semata karena Abdul berada di Bengkalis sepanjang malam.
Akan tetapi, beberapa waktu kemudian terdapat keponakannya yang datang dari Pulau Jawa dan mengabari bahwa istri pertama Abdul telah meninggal dunia pada malam yang sama. Menurut cerita dari keluarganya yang berada di Pulau Jawa, mereka merasa bahwa dirinya seolah-olah berada di sana pada saat kematian istri pertamanya.
Sejak saat itu, kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan masyarakat sebagai sebuah tanda kekuatan batin, rindu dan keterhubungan seorang suami yang saleh dengan keluarganya meski terpisahkan oleh jarak yang jauh.
Selain kisah tentang kehadiran Abdul di Pulau Jawa pada malam kematian istri pertamanya, terdapat juga kisah lain dari masyarakat pada masa perlawanan terhadap Belanda. Terdapat kisah bahwa dirinya berjalan melintasi jalanan desa sambil melangkah seolah-olah tidak menapakkan kaki ke tanah.
Masyarakat yang melihatnya merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Abdul karena berjalan begitu ringan, seolah-olah dilindungi oleh kekuatan yang tidak kasat mata.
Masyarakat pada zaman tersebut meyakini bahwa Allah sedang melindungi dirinya dari pantauan para penjajah, terutama dari pantauan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands Indisch Leger; KNIL) yang kerap mengawasi gerak-gerik para ulama.
Pada masa ketika para tokoh agama sering menjadi sasaran pengekangan dan ancaman, perlindungan tersebut dipandang sebagai bukti kasih dari Allah kepada seorang hamba yang menempuh perjuangan dengan penuh keikhlasan.
Berbagai kisah tersebut kemudian tetap hidup dalam ingatan masyarakat desa dan menjadi bukti betapa besarnya kewibawaan, keberanian dan keberkahan yang mengiringi langkah seorang yang saleh pada masa sulit saat melawan Belanda.
Bersama para sahabatnya, yakni Usman, Abbas dan Abdul Aziz serta para penduduk sekitar, Abdul memimpin perintisan lahan baru tersebut dengan bersama-sama menebang pohon, membersihkan semak dan menyiapkan tanah untuk ditanami tumbuhan. Dari hasil kerja keras tersebut, sebuah desa kecil mulai terbentuk.
Sebagian orang berpendapat bahwa nama Pedekik muncul belakangan. Sebelum nama tersebut dikenal, pembicaraan masyarakat kerap menyebut desa baru tersebut dengan sebutan Dukuh Kaputian Lundong, yang mana bukan digunakan sebagai penamaan resmi bagi wilayah baru tersebut, melainkan sebagai kenangan pada tempat kelahiran Abdul sendiri, yakni Dukuh Kaputian, sebuah dusun di Desa Lundong, Kecamatan Kutorejo.
Nama tersebut seakan menjadi pengikat perjalanan rohani dirinya dari Pulau Jawa menuju Bengkalis, sebelum pada akhirnya desa tersebut menggunakan nama Pedekik.
Nama Pedekik tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan terdapat dua versi sejarah yang menjadi pembahasan di lingkungan masyarakat. Versi pertama menyatakan bahwa Pedekik berasal dari kata Pendeke. Setelah lahan hutan berhasil dibuka, masyarakat yang ikut membantu sering bersyukur sambil berkata dalam bahasa Jawa Banyumasan, “Pendeke nek deweke bisa bae.” Yang memiliki arti, “pokoknya kalau kita yang mengerjakan, Insya Allah akan jadi.”
Ungkapan tersebut menjadi simbol semangat dan keyakinan bahwa keberhasilan lahir dari ketekunan dan doa. Dari kata Pendeke inilah, sebutan Pedekik perlahan-lahan terlontar dari ucapan masyarakat yang merupakan asimilasi antara Suku Melayu dan Suku Jawa. Hingga kini, para generasi tua masih menyebut desa tersebut dengan logat lama, yakni Pendekek.
Versi kedua menyatakan bahwa Pedekik berasal dari kata Pade Kek. Terdapat pula kisah lain yang menyatakan bahwa pada masa lampau, masyarakat yang tinggal di bagian darat sering berbelanja di toko milik Kek. Ketika masyarakat yang berasal dari Suku Melayu menanyakan “nak ke mane wak?”, masyarakat yang berasal dari Suku Jawa akan menjawab “nak pergi pade Kek”, yang memiliki arti “pergi ke kedai Tuan Kek”.
Lambat laun, ucapan Pade Kek tersebut melebur menjadi Pedekik. Oleh karena itu, Pedekik bukan sekadar nama tempat, melainkan cerminan antara pertemuan dua budaya Suku Jawa dan Suku Melayu yang hidup berdampingan di satu desa.
Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk di Desa Pedekik semakin meningkat. Pohon karet merupakan tanaman yang lazim ditanam di wilayah tersebut seiring dengan dibukanya kebun-kebun baru. Abdul menjadi panutan bagi masyarakat sekaligus guru, penolong dan pembimbing.
Setelah dirinya wafat, karisma tersebut diteruskan oleh putranya, yakni Muhammad Ichsan. Sekitar tahun 1980, tepatnya setelah berdiri selama lebih dari 60 tahun, Desa Pedekik resmi memisahkan diri dari Desa Kelapapati dengan menjadi desa yang berdiri sendiri dan dinamai sebagai Desa Muda Pedekik. Cucu Abdul, yakni Maksum Ihsan, menjabat sebagai kepala desa yang pertama.
Seiring berjalannya waktu, nama Abdul senantiasa melekat dalam ingatan masyarakat Pedekik. Ia bukan sekadar membuka wilayah hutan dan merintis desa namun juga merupakan figur yang menanamkan nilai-nilai luhur keimanan, keilmuan, kerja keras dan kebersamaan.
Dari hasil usaha dan doanya, berdirilah Desa Pedekik yang kini menjadi desa yang makmur dan berpendidikan. Dari garis keturunannya, lahir pula para tokoh agama, pemimpin masyarakat dan cendekiawan yang meneruskan cita-citanya. Seperti air yang mengalir tanpa henti, jasa Abdul memberikan manfaat bagi generasi-generasi berikutnya.
Abdul menikah sebanyak dua kali. Pernikahan pertamanya adalah dengan Jumilah, seorang wanita asal Pulau Jawa, dan dikaruniai dua orang putra yang bernama Hasan Ahmad dan Khoirot, keduanya dilahirkan di Desa Lundong. Pernikahan mereka berakhir dengan kematian Jumilah.
Pernikahan kedua Abdul adalah dengan Halimah, seorang wanita asal Desa Pedekik, dan dikaruniai seorang putra yang bernama Misbahul Munir, seorang ulama yang kemudian dikenal sebagai Muhammad Ichsan, dan dua orang putri yang bernama Paikem dan Fatimah, masing-masing dilahirkan di Desa Lundong dan di Bengkalis. Pernikahan mereka berakhir dengan kematiannya pada bulan April 1911 atau pada tahun 1912.
Abdul meninggal dunia di kediamannya yang berada di Jalan KH. Abdul Rasyid, Desa Pedekik, pada tahun 1912 dalam usia 87 tahun. Namun, terdapat ketidaksesuaian data terkait waktu kematian tersebut. Catatan tanggal hijriah mencantumkan 22 Rabiulakhir 1329 H sebagai tanggal kematiannya yang mana jika dikonversi ke kalender Masehi, tanggal tersebut bertepatan dengan 22 April 1911 yang berarti ia meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Abdul kemudian dimakamkan di Makam KH. Abdul Rasyid. yang berada di Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis.
Sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas jasanya, masyarakat beserta pemerintah Desa Pedekik mengabadikan namanya sebagai nama jalan utama di desa tersebut. Melalui kesepakatan tersebut, ditetapkanlah Jalan KH. Abdul Rasyid sebagai simbol penghormatan dan kebanggaan bagi warga setempat.
Jalan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jalur penghubung antara pemukiman dan ladang milik masyarakat, melainkan juga sebagai jalan kenangan yang merepresentasikan nilai historis yang menghubungkan generasi masa kini dengan sejarah masa lalu.
Setiap mobilitas masyarakat di jalan tersebut menjadi momentum pengingat akan dedikasi seorang ulama yang melakukan syiar keagamaan dan merintis pembangunan wilayah. Jalan KH. Abdul Rasyid menyimpan nilai sejarah yang menegaskan bahwa pendirian sebuah permukiman tidak hanya bertumpu pada aspek tenaga kerja dan usaha, melainkan juga didasarkan pada niat dan keyakinan yang kuat terhadap Allah SWT.
Listrik Indonesia

