JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Studi terbaru menunjukkan jika Covid-19 varian omicron mempunyai risiko infeksi berulang 5,4 kali lebih tinggi dan gejala lebih parah ketimbang Delta.
Studi tersebut diinisiasi oleh Imperial College Londoh (ICL) berdasarkan data Badan Keamanan Kesehatan Inggris dan Layanan Kesehatan Nasional terhadap orang positif covid-19 di Inggris antara 29 November hingga 11 Desember 2021.
"Mengontrol status, Omicron dikaitkan dengan risiko infeksi ulang 5,4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan Delta," demikian yang ditulis peneliti dalam studi, seperti dikutip Reuters.
WHO mengatakan jika mungkin sata Omicron sudah ada di sebagian besar negara dunia.
"Omicron menyebar pada tingkat yang belum pernah kita lihat dengan varian sebelumnya," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus selama pembaruan Covid di Jenewa, Selasa (14/12/2021) maktu setempat.
"(Sekitar) 77 negara kini telah melaporkan kasus Omicron. Dan kenyataannya Omicron mungkin ada di sebagian besar negara, meskipun belum terdeteksi."
WHO pun mengkhawatirkan jika negara yang mengabaikan Omicron. Ia meninta agr semua negara jangan meremehkan virus omicron.
"Ini bukan vaksin, bukan masker. Ini bukan vaksin alih-alih menjaga jarak. Ini bukan vaksin, bukan ventilasi atau kebersihan tangan. Lakukan semuanya. Lakukan secara konsisten. Lakukan dengan baik," tegas Tedros.(R03)
Sumber Berita: rri.co.id
Listrik Indonesia

