KARAWANG (RIAUSKY.COM)– Indonesia yang menorehkan pencapaian swasembada beras memutuskan tidak ada importasi yang dimulai sejak tahun 2025. Keputusan bersejarah ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri. Apalagi terkait pemenuhan kebutuhan konsumsi beras untuk masyarakatnya.
Dus, langkah penghentian impor beras Indonesia justru membawa perubahan drastis pada pergerakan harga beras di pasar internasional. Harga beras global cenderung menurun yang salah satunya merupakan impak tidak adanya permintaan dari Indonesia seperti tahun-tahun sebelumnya.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga mengemban amanah sebagai Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menegaskan Indonesia tidak perlu impor karena produksi beras nasional memadai. Saat ini stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sepenuhnya bersumber dari kristalisasi kerja keras dari para petani dalam negeri.
"Hari ini adalah kita hari kebahagiaan bagi petani seluruh Indonesia. Petani betul-betul sangat bahagia dengan kebijakan Bapak Presiden. Harga gabah naik. Kesejahteraan petani naik," kata Kepala Bapanas Amran dalam wawancara cegat sebelum kedatangan Presiden Prabowo di Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat pada Rabu (7/1/2026).
"Dampak positifnya adalah harga pangan dunia turun dari 650 dolar menjadi 340 dolar per ton. Turun 44 persen. Inilah hasil karya petani Indonesia di panggung internasional, sehingga karya petani Indonesia dinikmati dunia hari ini. Inilah puncaknya kebahagiaan petani," ungkap Amran.
Menurut Kepala Bapanas Amran, efek Indonesia tidak impor membuat pasokan beras di pasar internasional dari negara eksportir menjadi berlimpah. Dengan itu, kebijakan tegas Presiden Prabowo benar-benar menjadikan petani Indonesia berkontribusi secara tidak langsung pada pasar beras global.
"(Terjadi) penurunan harga karena Indonesia adalah importir. Tetapi saat ini tidak ada impor, itu secara otomatis barang melimpah di luar. Vietnam, Thailand, India, Pakistan, dan seterusnya. Ini secara tidak langsung, petani Indonesia, masyarakat Indonesia, berkontribusi pada dunia ini," beber Amran.
"Inilah gagasan dan kebijakan-kebijakan besar oleh Bapak Presiden. Kami hanya melaksanakan bagian kecil. Ini dibantu oleh TNI, Polri, Kejaksaan, Kementerian Perdagangan, BUMN, Komisi IV DPR, semua ikut membantu. Ini benar-benar kolaborasi yang baik. Bukan aku, tapi kita semua sebagai anak bangsa yang terlibat," kata Kepala Bapanas Amran lagi.
Adapun pergerakan harga beras di pasar internasional salah satunya juga dapat dipantau dalam laman resmi The Food and Agriculture Organization (FAO). FAO menyajikan panel informasi berupa The FAO All Rice Price Index (FARPI). FARPI sendiri merupakan indeks bulanan dari FAO yang mencerminkan rerata harga berbagai jenis komoditas beras dari negara pengekspor.
Berdasarkan FARPI, rekor indeks harga paling rendah dalam 5 tahun terakhir terjadi pada tahun 2025. Di November 2025 tercatat berada di level 96,9. Dalam catatan FAO, indeks FARPI terendah sebelumnya pernah terjadi di tahun 2021, tepatnya di Agustus 2021 dengan indeks 97,9.
Hal yang menarik adalah pada tahun 2021 dan 2025 adalah Indonesia sama-sama tidak melaksanakan pengadaan importasi untuk penambahan stok CBP. Kesamaan kondisi tersebut dapat menggambarkan betapa berpengaruhnya peranan Indonesia dalam pergerakan pasar beras internasional. Ketiadaan impor beras Indonesia di 2025 telah memberikan dampak yang signifikan.
Terkait Indonesia yang sempat terpaksa mengadakan impor pangan sebelumnya, Presiden Prabowo mengaku heran. Untuk itu, ia mengambil langkah tegas agar Indonesia dapat mencapai swasembada pangan. Urusan pangan tidak bisa bergantung pada bangsa lain.
"Terutama yang tidak masuk di akal saya, bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, Bumi yang luas, Bumi yang kaya tanah yang subur. Tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor pangan. Tidak masuk di hati saya," ucap Presiden Prabowo.
"Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan pangan tergantung bangsa lain. Satu tahun kita sudah swasembada. Satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki kita sendiri. Satu tahun kita tidak tergantung bangsa-bangsa lain," kata Presiden dengan lantang.
Untuk diketahui, stok CBP yang dikelola Bulog sampai akhir tahun 2025 tidak ada yang bersumber dari impor. Angkanya sangat kuat di 3,25 juta ton. Capaian ini menjadi yang tertinggi karena dalam catatan Bapanas, stok akhir tahun CBP selama ini belum pernah melampaui angka 3 juta ton.
Selain itu, dalam 18 tahun terakhir, stok akhir CBP yang tanpa pasokan dari impor juga belum pernah mencapai lebih 3 juta ton. Tercatat di 2008 yang tak ada impor, stok akhir CBP berada di 1,1 juta ton. Lalu 2009 yang juga nihil impor, di akhir tahunnya 1,6 juta ton. Sementara di 2019 sampai 2021 yang juga tidak ada impor, stok akhir tahun stok CBP masing-masing di tiga tahun tersebut berada di angka 2,2 juta ton, 1,9 juta ton, dan 0,8 juta ton.(R02)

