SEDIH... Jadi Provinsi Penanam dan Penghasil Sawit Terbanyak, Riau cuma Dapat Alokasi 9.000 dari 11 Juta Liter Minyak Goreng Subsidi

Rabu, 12 Januari 2022 | 15:45:46 WIB
SEDIH... Jadi Provinsi Penanam dan Penghasil Sawit Terbanyak, Riau cuma Dapat Alokasi  9.000  dari 11 Juta Liter Minyak Goreng Subsidi
Ket Foto : Minyak goreng hasil produksi industri yang bergerak di bidang kelapa sawit.

PEKANBARU (RIAUSKy.COM) - Menjadi daerah penanam dan  penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, ternyata Riau hanya mendapatkan pasokan minyak goreng  subsidi sebanyak 9.000 liter  pasca melonjaknya harga minyak makan di pasaran. 

Minyak goreng itu pun akan dijual seharga Rp14.000 per liter melalui sejumlah usaha ritel yang telah ditunjuk.

Informasi tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Riau, M Taufiq OH melalui Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Lisda.

Dia mengakui memang untuk harga minyak goreng mengalami kenaikan, dan itu terjadi merata di seluruh Indonesia. 

"Namun, kenaikan minyak goreng ini sudah ada kontrol dari program pemerintah pusat berupa subsidi minyak goreng 11 juta liter ke seluruh Indonesia. Itu untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak goreng," kata Lisda, Rabu (12/1/2022). 

Lisda menyampaikan, dari 11 juta liter minyak goreng subsidi pemerintah, Provinsi Riau mendapat kuota sebanyak 9 ribu liter. Ribuan liter minyak goreng. Jumlah  tersebut disalurkan melalui sejumlah ritel modern, seperti Alfamart dan Indomaret. 

"Subsidi minyak goreng 9 ribu liter itu disalurkan ke ritel modern, Alfamart dan Indomaret. Karena pemerintah pusat mengintruksikan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk mendiskusikan minyak goreng subsidi itu. Jadi minyak itu di pasarkan di situ, tidak di pasar-pasar tradisional. Sebab kalau di pasar-pasar, dikhawatirkan harga sulit dikontrol karena pedagang akan mengambil untung lagi," terangnya. 

Lisda mengatakan, bahwa 9 ribu liter minyak goreng dengan harga Rp14 ribu per liter tersebut sudah didistribusikan sejak 20 Desember 2021, dan pada 31 Desember 2021 sudah di stop. 

"Kemarin laporan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri itu distribusinya seluruh Indonesia baru 30 persen, karena waktunya mepet. Makanya kita menunggu regulasi lagi dari pusat, karena saat ini harga minyak goreng masih tinggi. Apalagi saat ini harga sawit naik lagi, tentu harga minyak goreng akan naik," tutupnya.(mcr)


FOLLOW Twitter @riausky dan LIKE Halaman Facebook: RiauSky.Com



 
Cetak Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
Tulis Komentar Index »
IKLAN BARIS