RIAUSKY.COM - Satreskrim Polres Malang terus melakukan pendalaman dugaan pembunuhan Puji Astrianto (30). Polisi menyelidiki soal keberadaan korban selama tiga hingga empat hari sebelum ditemukan tewas terkubur, Selasa (29/5).
Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menjelaskan, pihaknya sudah mengamankan dua orang. Keduanya masih dalam kapasitas dimintai keterangan.
“Sudah kami amankan dua orang. Kami mintai keterangan,” kata Ujung, di salah satu rumah makan di Kabupaten Malang, Selasa (29/5) lalu.
Dia menjelaskan, dari awal pihaknya memang sudah mencurigai, warga Lowokwaru, Kota Malang itu meninggal secara tidak wajar. Menurut Ujung, Puji merupakan korban yang meninggal akibat kejahatan atau tindak pidana.
“Kami selidiki, tindak lanjuti dan dalami. Kami dalami perannya apa saja,” tegasnya.
Ujung menjelaskan, dugaan orang yang melakukan pembunuhan kepada Puji berjumlah empat orang. Satu di antaranya diduga oknum TNI AD. Dugaan sementara ini diambil berdasarkan keterangan saksi yang sudah mereka kumpulan.
Berdasarkan keterangan saksi, lanjut Ujung, terakhir korban bersama dengan tiga hingga empat orang. Orang yang diduga pelaku dan berasal dari kalangan sipil, semua diproses di Polres Malang.
“Iya pasti, ini sedang kami dalami apa peran orang-orang yang terakhir bertemu korban,” katanya seperti dilansir Pojoksatu.id.
Sementara itu, lokasi pembongkaran penguburan jenazah korban yang di tengah kebun sengon, lanjut Ujung, hanya sebagai tempat pembuangan. Diduga, pembunuhan tidak dilakukan di sana.
Sebagai informasi, Selasa (29/5), petugas gabungan dari Polres Malang dan TNI AD, melakukan pembongkaran kuburan di Jabung, Kabupaten Malang. Kuburan ini digunakan untuk menimbun jasad Puji Astrianto.
Kuburan ini tanpa nisan apalagi kafan. Jasad pegawai toko ritel modern itu hanya ditimbun begitu saja dengan tanah. Tubuhnya diletakkan di lubang galian dengan kedalaman 50 sentimeter.
Di lokasi kejadian, ditemukan jaket dan lakban. Saat digali, kondisi jenazah sudah mengeluarkan bau busuk dan sebagian kulit mengelupas. Usia kematian diperkirakan tiga hari.
Jenazah korban dikirim ke kamar mayat untuk keperluan otopsi. Saat di kamar mayat, beberapa anggota TNI AD berseragam juga tampak berada di kamar mayat.
Belum jelas apa keterkaitan antara anggota TNI AD dengan kasus ini. Pasalnya, hingga kini belum ada keterangan resmi.
“Saya dalami dulu ya,” kata Kadispen AD, Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh, kepada Jawa pos.com melalui pesan WhatsApp, Selasa (29/5) malam.
Ibu korban, Sulastri, menyebutkan, anaknya kerap diancam oleh seseorang yang berinisial Rn. Puji dituduh telah menggoda Y, istri Rn.
Warga Jalan Bunga Srigading Kota Malang itu diduga menjadi selingkuhan istri Rn alias NS. NS diketahui merupakan oknum anggota Divisi 2 Kostrad, berasal dari tamtama.
“Motif sekilas hubungan asmara dengan salah satu pelaku,” kata Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, di Mapolres Malang, Rabu (30/5).
Dugaan Ujung ini, diperkuat dengan keterangan dari Sulastri, ibu korban. Sulastri menuturkan, anaknya ini sering diancam oleh Rn. Bahkan, sebulan lalu sebelum kejadian, Rn mendatangi Puji dan melabraknya.
“Katanya menggoda dan selingkuh dengan Y (istri Rn). Tapi saya nggak percaya, saya tahu anak saya seperti apa,” katanya sembari menambahkan Puji memiliki dua anak yang masih kecil.
Bahkan Sabtu (26/5), hari ketika Puji menghilang, anaknya ini sempat telepon kepada Sulastri. Dia meminta agar dikawal pulang oleh seorang rekan. Pasalnya, dia ketakutan setelah diancam kembali oleh Rn.
Ketika sedang bercakap di telepon, tiba-tiba saja sambungan terputus. Sulastri pun kesulitan menghubungi Puji.
Dia sudah curiga bahwa Rn membuntuti anaknya dalam perjalanan pulang dari toko ritel modern di Pakisaji ke rumahnya, di Jalan Bunga Srigading. Sebagai ibu, instingnya mengatakan bahwa anaknya dalam bahaya.
BACA: Tak Disangka, Hasil Otopsi Puji Ungkap Fakta Lain, Mati Lemas
Dia lantas mencoba mencari Puji. Di perempatan Jalan Sigura-gura, dia mendapati mobil milik Rn mengalami kecelakaan. Perasannya berkata bahwa anaknya ada di dalam sana.
“Ketika saya cari, kok nggak ada. Saya nyari kemana-mana, tapi tidak ketemu,” katanya sendu.
Sementara itu, istri korban, Alfa Quroida, menangis histeris bahkan harus dibopong, ketika berada di kamar mayat, Selasa (29/5). Dia tidak percaya bahwa suaminya telah tiada. (R02)
Listrik Indonesia

