Bukan Partai Besar, Ini Gambaran Jusuf Kalla Soal Penentu Poros Koalisi Capres 2024

Jumat, 17 Juni 2022 | 10:01:17 WIB
Bukan Partai Besar, Ini Gambaran Jusuf Kalla Soal Penentu Poros Koalisi Capres 2024
Ket Foto : Jusuf Kalla

JAKARTA (RIAUSKY.COM)- Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan partai kelas menengah saat ini akan menjadi penentu poros koalisi jelang Pilpres 2024.

Elite senior Partai Golkar ini menyebut tak mudah mencari pasangan antar partai dan tokoh politik. 

Menurut dia, setidaknya, ada tiga faktor yang menentukan capres yaitu elektabilitas tokoh, partai pengusung, dan pasangan keduanya.

Di luar itu, ada peraturan presidential treshold (PT) atau ambang batas presiden sebesar 20 persen yang menjadi pengikat syarat pencalonan.

"[Sebab] partai-partai yang katakanlah menengah ke atas itu memenuhi syarat, tetapi calon yang diajukan elektabilitas rendah. [Sementara] yang punya elektabilitas tinggi tapi tidak ada partainya," ujar Jusuf Kalla dalam Seminar Kebangsaan Partai NasDem di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (16/6).

Hal itu dinilai JK dapat membuat partai-partai menengah memiliki peranan signifikan dibanding partai besar.

"Walaupun dia partai mendekati elektoral 20 persen, dia butuh sistem pasangan yang cukup [tinggi elektabilitasnya], dan suatu partai yang bisa mencukupi lagi," ucap JK.

"Akan menentukan siapa yang menjadi calon justru bukan partai besar tapi partai menengah," tegasnya.

JK menyebut 2022 merupakan tahun romantis dalam politik Indonesia. Dia menepis anggapan politik elektoral tahun ini akan memanas, sebab justru berbagai aktor sedang mencari jodoh.

"Jadi kalau saya katakan ini tahun romantis, tahun 2023 pemantapan, dan 2024 ini memilih," sambungnya.

Pasal 222 UU Pemilu telah mensyaratkan pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya.

Dengan ketentuan tersebut, pasangan capres dan cawapres harus diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik jika hendak maju ke ajang Pilpres.

Pilpres 2004, 2009, dan 2014 menetapkan presidential threshold dengan merujuk pada perolehan jumlah kursi DPR atau suara sah nasional partai dari hasil Pemilu Legislatif (Pileg) yang dilaksanakan beberapa bulan sebelum pilpres.

Pada Pilpres 2019, ambang batas yang digunakan adalah perolehan jumlah kursi DPR atau suara sah nasional partai dari Pileg periode sebelumnya atau 2014. Hal itu diterapkan lantaran Pilpres dan Pileg 2019 dilaksanakan serentak April 2019.(R02)

Sumber Berita: cnnindonesia.com


FOLLOW Twitter @riausky dan LIKE Halaman Facebook: RiauSky.Com



 
Cetak Akses RiauSky.Com Via Mobile m.riausky.com
Tulis Komentar Index »
IKLAN BARIS